Ponpes Ribatul Muta’allimin Pekalongan

PONDOK PESANTREN

RIBATUL MUTA’ALLIMIN

LANDUNGSARI – PEKALONGAN

       

———————————————————————

Sejarah Pondok Pesantren Ribatul Muta’allimin

 

 Pondok Pesantren Ribatul Muta’allimin, Landungsari Pekalongan atau yang biasa juga disebut Pondok Grogolan, didirikan oleh almukarrom walmaghfur-lah K.H. Saelan pada tahun 1921 M. Beliau adalah putra dari kiai Muchsin bin Kiai Abdulloh (Syaih Tholabuddin) bin Kiai Chasan. Kiai Chasan ini adalah seorang kiai dari Kerajaan Mataram. Semasa muda, KH. Saelan mengaji dan menuntut ilmu kepada Kyai Maliki (Landungsari) dan Habib Hasyim (Pekalongan). Beliau juga nyantri kepada KH. Dimyati, Tremas, Pacitan dan Syaikhona KH.R. Cholil bin Abdul Latif atau biasa disebut Syeikh Cholil Bangkalan (Madura). Setelah berguru kepada kedua ulama besar tersebut, KH. Saelan kemudian mendirikan Pondok Pesantren di Desa Landungsari.

Pada mulanya KH. Saelan mendirikan Pondok Pesantren dengan membangun sebuah surau (musholla) kecil yang sederhana dengan atap daun rumbia dan lantainya masih berupa tanah. Di surau itulah KH. Saelan mengajar santri-santrinya dengan sistem pengajian sorogan dan bandungan. Mula-mula santri beliau berasal dari Desa Medono. Setelah jumlah santri yang belajar bertambah banyak, maka pada tahun 1928 dengan bantuan H. Abdussalam (Grogolan) didirikan bilik/kamar untuk menginap para santri. Dengan adanya santri yang menginap, maka untuk metode pengajaran digunakan sistem tingkatan atau kelas. Sementara itu, pengajian sistem sorogan dan bandungan tetap dipertahankan.

KH. Saelan mempunyai istri, yaitu Nyai Hj. Khaulia binti Kyai Abdul Mukti (masih keturunan mBah Nur Anom, Kranji-Pekalongan). Dari istrinya tersebut, Beliau dikaruniai empat orang putra-putri, yaitu : Hj. Khadhiroh, KH. Hamid Yasin, Hj. Bariroh dan Hj. Jauharoh. KH. Saelan menikah lagi dengan Hj. Masrurotun setelah Ibu Nyai Hj. Khaulia wafat.  Dari istrinya yang kedua, beliau dikaruniai seorang putra, yaitu KH. Hasan Rumuzi Yasin.

Pada tahun 1938 M, KH. Saelan wafat. Untuk selanjutnya kepemimpinan Pondok Pesantren digantikan oleh KH. Nachrawi bin Chasan dan KH. Hamid Yasin (putra KH. Saelan). KH. Nachrowi Chasan adalah santri dan sekaligus menantu dari KH. Saelan. Selain belajar kepada KH. Saelan, KH. Nachrowi juga belajar pada KH. Dimyati, Tremas, Pacitan. Beliau juga pernah belajar kepada KH. Romli Tamim, Jombang. Sementara itu KH. Hamid Yasin, selain belajar kepada ayahnya, juga belajar kepada mBah Maksum Lasem dan di Kaliwungu, Kendal. Pada masa ini, salah seorang santri almarhum KH. Saelan, yaitu Habib Muhammad, memberi nama Pondok Pesantren dengan nama “Ribatul Muta’allimin”.

Selama kepemimpinan KH. Nachrawi Chasan dan KH. Hamid Yasin, Pondok Pesantren Ribatul Muta’aalimin mengalami perkembangan yang cukup pesat. Jumlah santri yang mengaji bertambah banyak. Oleh karenanya sarana fisk juga baik berupa gedung/bangunan untuk kegiatan belajar-mengajar maupun bangunan bilik untuk menginap para santri semakin bertambah. Metode pengajaran dengan sistem kelas dan kurikulumnya juga semakin baik, dari tingkat Sifir, Ibtidaiyah Diniyah, Tsanawiyah Diniyah dan Aliyah Diniyah. Sementara itu, pengijian sorogan dan bandungan yang dilaksanakan di musholla tetap dipertahankan sampai sekarang.

 Pada tahun 1981 M, KH. Hamid Yasin wafat. Selanjutnya Pondok Pesantren Ribatul Muta’allimin tetap diasuh oleh KH. Nachrowi Chasan dengan dibantu oleh KH. Hasan Rumuzi (putra KH. Saelan), KH. Dja’far Nachrowi (putra KH. Nachrowi Chasan) dan KH. Abu Khalid (menantu KH. Saelan). Pada masa ini Pondok Pesantren Ribatul Muta’allimin semakin maju. Salah satu kemajuan yang sangat dibanggakan adalah diadakannya pendidikan  Madrasah Tsanawiyah dengan kurikulum Departemen Agama (setingkat SMP) dan Madrasah Aliyah kurikulum Departemen Agama (setingkat SMU).

Pada Hari Rabu tanggal 12 Juni 1996 M atau 26 Muharrom 1417 H, KH. Nachrowi Chasan wafat. Selanjutnya Pondok Pesantren Ribatuk Muta’allimin diasuh oleh KH. Dja’far Nachrowi, KH. Hasan Rumuzi dan KH. Abu Khalid dengan dibantu oleh putra-putri KH. Nachrowi yang lain. Namun baru sekitar satu tahun mengasuh Pondok Pesantren menggantikan ayahnya, tepatnya Hari Senin tanggal  21 April 1997 M atau 13 Dzulhijjah 1417 H, KH. Dja’far Nachrowi wafat. Dan selanjutnya Pondok Pesantren Ribatul Muta’allimin diasuh oleh KH. Hasan Rumuzi, KH. Sa’dullah Nachrowi dan KH. Najib Nachrowi.

Untuk memperingati wafatnya almarhum KH. Saelan selaku pendiri Pondok Pesantren, maka pada setiap tanggal 12 Sya’ban, di Pondok Pesantren Ribatul Muta’allimin diadakan kegiatan Khoul KH. Saelan dan para pengasuh lainnya, dimana kegiatan tersebut bertepatan dengan kegiatan Akhirussanah dan wisuda santri tingkat Aliyah Diniyah Pondok Pesantren Ribatul Muta’allimin.

 Tujuan Pondok Pesantren Ribatul Muta’allimin

Sesuai dengan yang tercantum di dalam akta pendirian Yayasan Pondok Pesantren Ribatul Muta’allimin, tujuan diadakannya kegiatan di Pondok Pesantren yang berasaskan PANCASILA dan berakidah Islam AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH ini adalah sebagai berikut :

  1. Memberikan pendidikan dan pengetahuan Agama Islam serta pengetahuan umum secara luas kepada masyarakat, sehingga bisa meningkatkan kualitas manusia, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT., berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, cerdas dan terampil, mau bekerja keras, tangguh, tanggung jawab, mandiri, sehat jasmani dan rohani.
  2. Melestarikan penggunaan kitab kuning sebagai ciri khas dari Pondok Pesantren.
  3. Ikut membantu usaha-usaha pemerintah dalam pembangunan, baik materiil maupun spirituil.

 Untuk mencapai tujuan tersebut diatas, maka usaha-usaha yang telah dilakukan adalah sebagai berikut :

  1. Mendirikan Madrasah Diniyah Ibtidaiyah, Madrasah Diniyah Tsanawiyah, Madrasah Diniyah Aliyah, Madrasah Tsanawiyah SKB (Surat Keputusan Bersama, setingkat SMP) dan Madrasah Aliyah SKB (setingkat SMU).
  2. Mengadakan pengajian-pengajian rutin, baik bandungan, sorogan (tulis-baca) maupun sema’an (dengan mendengarkan untuk dimengerti).
  3. Mengadakan kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan.
  4. Sebagai sarana dan prasarana tersebut diatas, maka telah dibangun gedung-gedung sekolah/Madrasah, Pondok Pesantren, tempat ibadah serta melengkapinya dengan sarana dan prasarana penunjang yang dibutuhkan.

 Perkembangan Pondok Pesantren Ribatul Muta’allimin

 Eksistensi atau keberadaan Pondok Pesantren Ribatul Muta’allimin ditengah-tengah masyarakat semakin diakui, baik di lingkungan Kota Pekalongan maupun di luar. Hal ini terbukti dari sejumlah santri yang datang dari berbagai daerah. Kenyataan ini mendorong Pengasuh dan para Pengurus beserta seluruh jajaran Majlis Guru untuk selalu berupaya meningkatkan pelayanan terhadap seluruh lapisan masyarakat dari berbagai kebutuhan mulai dari permasalahan sosial, kegamaan, kemasyarakatan, pendidikan dan lainnya.

 Masa Perkembangan Pondok Pesantren Tahap Pertama :

Usaha Pengembangan Pondok Pesantren mulai dilakukan pada masa KH. Nachrowi Chasan, mengingat semakin bertambahnya jumlah santri yang belajar di Pondok Pesantren Ribatul Muta’allimin, baik santri laju (santri kalong) maupun santri yang menetap. Atas usaha KH. Nachrowi Chasan dan dibantu oleh masyarakat, telah dapat dibangun 8 kamar di Pondok Pesantren. Kemudian atas dorongan H.Syamsuri, maka pada tahun 1954 disusun sebuah Panitia Pembangunan Madrasah Salafiyah Ribatul Muta’allimin sebagai berikut:

Penasehat  :    KH. Nachrawi Chasan

Ketua :    Mas’ud Karnadi

Sekretaris :    H. Djazuli Fajari

Bendahara :    H. Samsuri

Wakil Bendahara:    H. Syukur Harun

Pada Tahun 1955, diatas tanah waqaf milik H.Syamsuri telah dapat dibangun sebuah gedung madrasah yang terdiri dari 4 lokal dan sebuah ruang guru dengan perlengkapannya yang kesemuanya menelan biaya Rp. 83.000,- diluar harga tanah. Mengingat kekurangan areal tanah untuk pembangunan gedung madrasah, maka tanah milik Bapak Kasdani yang berada dibelakang tanah milik H.Syamsuri diwaqafkan pula.

Pada Tahun 1958, atas usaha KH. Nachrawi Chasan dengan dibantu masyarakat, dibangun sebuah bangunan yang terdiri 4 kamar yang dilengkapi dengan serambi yang digunakan untuk kegiatan belajar- mengajar. Pembangunan tersebut menelan biaya Rp.100.000,-

Pada Tahun 1961, atas usaha H.Juned (PPIP) dan H.Ridhwan (Ketua Tanfidziyah PCNU Kodia Pekalongan), dibeli tanah beserta bangunannya seluas 1000 m² yang bersebelahan dengan komplek Pondok Pesantren. Bangunan tersebut digunakan juga untuk kegiatan sekolah (Komplek B).

Pada Tahun 1963, Pondok Pesantren Ribatul Muta’allimin mendapat musibah akibat banjir dari sungai yang berada dibelakang Pondok Pesantren yang mengakibatkan robohnya bangunan yang terdiri 4 kamar. Pada Tahun itu pula dibangun sebuah bangunan yang terdiri dari 6 kamar beserta serambinya yang digunakan untuk kamar para santri dan sekaligus untuk kegiatan belajar-mengajar (Komplek C).

Pada Tahun 1969, H.Juned dan H.Ridhwan memprakarsai pembelian tanah seluas 600 m² yang berada diseberang komplek Pondok Pesantren dan sekaligus dibentuk suatu Panitia Pembangunan sebagai berikut :

Penasehat                         :    H.Juned, H.Ridhwan dan KH.Hamid Yasin

Pelaksana                         :    Istadi

Ketua                                :    KH.Nachrawi Chasan

Wakil Ketua                    :    Rahmat Kurdi

Sekretaris                         :    Kholil Abdurrahman

Wakil Sekretaris             :    H.Dja’far Nachrawi

Bendahara                        :    H.Djazuli

Wakil Bendahara            :    H.Moh. Nur

Pada Tahun 1972, atas prakarsa H.Ridhwan dan H.Juned, dibeli sebidang tanah diseberang Pondok Pesantren seharga Rp.200.000,- yang kemudian dibangun sebuah gedung berlantai 2 yang terdiri 6 lokal kelas (khusus putri). Adapaun sisa tanah dari pembelian tanah tersebut, tepatnya disamping masjid, diberikan kepada KH.Nachrawi Chasan yang kemudian dibangun sebuah rumah. Biaya keseluruhan dari pembangunan Madrasah Banat beserta rumah tersebut menghabiskan dana Rp.9.000.000,.

 Kemudian pada Tahun 1974, atas usaha H.Juned, H.Ridhwan dan H.Tamim, dibangun gedung lantai 2. Untuk lantai atas digunakan untuk kegiatan belajar Madrasah Diniyah Tsanawiyah, sedangkan lantai bawah digunakan untuk kamar para santri (6 lokal) dan 1 ruang guru (Komplek D).

Masa Perkembangan Pondok Pesantren Tahap Kedua

 Untuk mengantisipasi perkembangan, disamping keinginan sebagian besar orang tua atau wali santri yang menginginkan anaknya memperoleh pendidikan formal sekaligus pendidikan agama, maka atas prakarsa dan usaha dari KH.Dja’far Nachrawi dan Kyai Syatibi serta dorongan dari Bapak Wahyudi dan para ustadz/guru lainnya, maka pada Tahun 1983 didirikan Madrasah Tsanawiyah (MTs) dengan kurukulum Departemen Agama, setingkat SMP. Untuk melengkapi fisik dengan didirikannya MTs tersebut, maka pada Tahun 1985 dibangun sebuah gedung berlantai 2 yang digunakan sebagai sarana perkantoran, ruang ketrampilan dan ruang OSIS.

Pada Tahun 1986, atas swadaya dan bantuan dari masyarakat, Pondok Pesantren Ribatul Muta’allimin berusaha mengembangkan sarana belajar dan penginapan para santri yang dirasakan sangat mendesak untuk segera dipenuhi mengingat semakin bertambahnya jumlah santri yang menetap. Usaha pengembangan tersebut adalah dengan membeli sebidang tanah milik OE NGE BOEN (papa mbun) seharga Rp.8.500.000,-. Diatas tanah tersebut dibangun sebuah gedung berlantai 3 yang selesai dibangun pada Tahun 1989 dan menghabiskan dana Rp.91.040.000,-. Adapun Susunan Panitia Pembangunan Gedung Lantai 3 tersebut adalah sebagai berikut :

Penasehat :    KH.Nachrowi Chasan & H.Djoko Prawoto,BA.

Ketua :    KH.Hasan Rumuzi

Wakil Ketua :    KH.Dja’far Nachrowi

Sekretaris :    Fathurrohman Abd. Hamid & H.Mudhofir Kurdi

Bendahara  :    Dr.Sobirin Nachrowi & H.Saelani Mahfudz

Pembantu Umu :    Keluarga Besar KH.Nachrowi dan Bani KH.Saelan

 Untuk menampung para siswa yang telah lulus dari MTs Ribatul Muta’allimin dan lulusan Sekolah Menengah Pertama yang akan melanjutkan pendidikan formalnya sekaligus memperoleh pendidikan agama dengan mengaji di Madrasah Diniyah Ribatul Muta’llimin, maka atas usaha KH.Dja’far Nachrowi pada Tahun 1989 dibuka Madrasah Aliyah Ribatul Muta’allimin dengan kurikulum Departeme Agama, setingkat SMU. Adapun untuk kegiatan belajar-mengajar Madrasah Aliyah tersebut, digunakan gedung lantai 3 yang telah selesai dibangun pada Tahun 1989.

Masa Perkembangan Pondok Pesantren Tahap Ketiga

 Untuk lebih mengefektifkan kinerja dari pengasuh dan pengurus Pondok Pesantren serta untuk lebih terjalinnya koordinasi di lingkungan Pondok Pesantren, mengingat lembaga yang bernaung dibawahnya sudah berkembang, maka pada tanggal 4 Oktober 1993 dibentuk suatu yayasan yang bernama “Yayasan Pondok Pesantren Ribatul Muta’allimin” atau YPPRM oleh KH.Nachrowi Chasan, KH.Dja’far Nachrowi dan KH.Hasan Rumuzi. Adapun susunan pengurus Yayasan PPRM saat ini adalah sebagai berikut :

Ketua Umum :    KH.Hasan Rumuzi

Ketua I  :    KH.Sa’dullah Nachrowi

Ketua II   :    KH.M.Najib Nachrowi

Sekretaris Umum  :    H. Mudhofir Kurdi

Sekretaris I :    K. Syatibi

Sekretaris II :    H. Habib Soleh

Bendahara Umum :    H. M.Saelani Mahfudz

Bendahara I  :    Hj. Umi Salamah Nachrowi

Bendahara II :    Muhibah Nachrowi

Hubungan Antara Pondok Pesantren Ribatul Muta’allimin Dengan NU

Ibarat mata uang, NU dan Pondok Pesantren merupakan dua sisi yang tidak bisa dipisahkan. Sejarah membuktikan bahwa Jam’iyah Nahdlatul ‘Ulama lahir dari komunitas pesantren. Oleh karena itu, Pondok Pesantren Ribatul Muta’allimin, seperti halnya pondok-pondok pesantren yang lain di Indonesia, khususnya di Jawa, mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Jam’iyah Nahdlatul ‘Ulama. Hubungan baik ini ditandai dengan aktifnya para pengasuh dalam kepengurusan NU Cabang Pekalongan.


Kurikulum Madrasah Diniyah Salafiyah Ribatul Muta’allimin

Pondok Pesantren Ribatul Muta’allimin merupakan Pondok Pesantren yang telah memiliki jenjang kurikulum yang cukup lengkap. Oleh karenanya banyak Pondok Pesantren, Madrasah ataupun Lembaga Pendidikan Agama di Pekalongan dan sekitarnya yang menggunakan kurikulum yang telah diterapkan di Pondok Pesantren Ribatul Muta’allimin.

Kurikulum lengkap Madrasah Diniyah Salafiyah Ribatul Muta’allimin adalah sebagai berikut :

Tingkat Ibtidaiyah

 

Kelas I

-       Adzkaarussholaat

-       Al-Lughoh Al-‘Arabiyah

-       Al-Imla’/Al-Khoth

-       Al-Taukhiid

-       Al-Ad’iya’

-       Al-Tahaji

Kelas II

-       Adzkaarussholaat

-       Al-Lughoh Al-‘Arabiyah

-       Al-Imla’/Al-Khoth

-       Al-Qur’an

-       Al-Taarikh

-       Syaraaith

Kelas III

-       Al-Qur’an

-       Al-Lughoh Al-‘Arabiyah

-       Al-Imla’/Al-Khoth

-       Al-Taukhiid (‘Aqiidatul ‘Awaam)

-       Al-Akhlaaq (Tanbiih Al-Ta’liim)

-       Al-Taarikh (Qishoh Al-Anbiyaa’)

-       Al-Fiqh (Mabaadi’ Al-Fiqhiyyah)

Kelas IV

-       Al-Qur’an

-       Al-Lughoh Al-‘Arabiyah (Ta’Liim Al-Lughoh Al-‘Arabiyah 1)

-       Al-Taukhiid (Qotrul Ghoits)

-       Al-Adaab (Nadhom Al-Mathlab)

-       Al-Taarikh (Khulaashoh Al-Nur Al-Yaqiin, Juz 1)

-       Al-Tajwiid (Hidaayah Al-Shibyaan)

-       Al-Fiqh (Safiinah Al-Najaah)

Kelas V

-       Al-Nakhwu (Al-Ajrumiyyah, Awal)

-       Al-Shorf (Al-Amtsilah Al-Tashriifiyyah, Awal)

-       Al-Lughoh Al-‘Arabiyah (Ta’Liim Al-Lughoh Al-‘Arabiyah 2)

-       Al-Qur’an

-       Al-Tajwiid (Jazariyyah, Awal)

-       Al-Taukhiid (Syu’b Al-Iimaan)

-       Al-Taarikh (Khulaashoh Al-Nur Al-Yaqiin, Juz 2)

-       Al-Fiqh (Matan Al-Ghaayah wa Al-Taqriib, Awal)

Kelas VI

-       Al-Nakhwu (Al-Ajrumiyyah, Tsaani)

-       Al-Shorf (Al-Amtsilah Al-Tashriifiyyah, Tsaani)

-       Al-Lughoh Al-‘Arabiyah (Ta’Liim Al-Lughoh Al-‘Arabiyah 3)

-       Al-Qur’an

-       Al-I’laal (Al-Qowaaid Al-I’laal)

-       Al-Hadits (Al-Arbaiin Al-Nawawi)

-       Al-Tajwiid (Jazariyyah, Tsaani)

-       Al-Taukhiid (Khoriidah Al-Bahiyyah)

-       Al-Taarikh (Khulaashoh Al-Nur Al-Yaqiin, Juz 3)

-       Al-Fiqh (Matan Al-Ghaayah wa Al-Taqriib, Awal)

Tingkat Tsanawiyah

Kelas I

-       Al-Nakhwu (Al-Imriithi)

-       Al-Shorf (Nadhm Al-Maqsuud)

-       Al-Lughoh Al-‘Arabiyah

-       Al-Tafsiir (Ilmu Al-Tafsiir)

-       Al-Hadits (Buluughul Al-Maraam, Awal)

-       Mushtholah Al-Hadits (Al-Baiquuniyyah)

-       Al-fiqh (Fath Al-Qoriib Al-Mujiib, Awal)

-       Al-Taukhiid (Jawaahir Al-Kalaamiyyah)

-       Al-Balaaghoh (Al-Isti’aaroh)

Kelas II

-       Al-Nakhwu (Alfiyah Ibn Al-Maalik, Awal)

-       Al-Tafsiir (Tafsiir Al-Ahkaam)

-       Al-Hadits (Buluughul Al-Maraam, Tsaani)

-       Ushul Al-Fiqh (Nadhm Al-Waraaqaat, Awal)

-       Al-Fiqh (Fath Al-Qoriib Al-Mujiib, Tsaani)

-       Qowaaid Al-I’rob (Kifaayah Al-Ashhaab)

-       Al-Taukhiid (Kifaayah Al-Awaam)

-       Al-Balaaghoh (Jauhar Al-Maknuun, Awal)

-       Al-Faraaidh (‘Iddah Al-Fariidh, Awal)

 Tingkat Aliyah

 Kelas I

-       Al-Nakhwu (Alfiyah Ibn Al-Maalik, Tsaani)

-       Al-Tafsiir (Tafsiir Al-Ahkaam)

-       Al-Hadits (Ibn Abi Jamroh)

-       Ushul Al-Fiqh (Nadhm Al-Waraaqaat, Tsaani)

-       Al-Fiqh (Fath Al-Mu’iin, Awal)

-       Al-Qowaaid Al-Fiqhiyyah (Al-Faraaid Al-Bahiyyah, Awal)

-       Al-Akhlaaq (Bidaayah Al-Hidaayah)

-       Al-Balaaghoh (Jauhar Al-Maknuun, Tsaani)

-       Al-Faraaidh (‘Iddah Al-Fariidh, Tsaani)

Kelas II

-       Al-Nakhwu (Alfiyah Ibn Al-Maalik, Tsaalits)

-       Al-Fiqh (Fath Al-Mu’iin, Tsaani)

-       Al-Qowaaid Al-Fiqhiyyah (Al-Faraaid Al-Bahiyyah, Tsaani)

-       Al-‘Aruudh

-       Al-Balaaghoh (Jauhar Al-Maknuun, Tsaalits)

-       Al-Mantiq (Sullam Al-Munawwaraq)

-       Al-Falak (Risaalah Al-Falaakiyyah)

-       Al-Tasawuf (Kifaayah Al-Atqiyaa’)

Sedangkan kitab kuning (kitab salaf) yang diajarkan di Ribatul Muta’allimin diantaranya :

-       Tafsiir Jalalain

-       Fath Al-Mu’iin

-       Al-Ajruumiyyah

-       Mabaadi’ Al-Fiqhiyyah

-       Majaalis Al-Saniyyah

-       Ta’liim Al-Muta’allim

-       Bahjah Al-Wasaail

-       Nashaikh Al-Diniyyah

-       Kailani

-       Kitaab Al-Makhiidh

-       dsb.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* 1+6=?