Khira Ummah and it Challenges: Self critiques

By: Muhammad Adib Abdushomad, Gja, M.Ag

 My dears Brothers in Islam,

For this great occasion, Again I remind myself and my brothers to strengthen our level of Taqwa to Allah (swt) the most holy, because with the taqwa we can obtain real happiness in this world and in the hereafter. The level our Taqwa should be increased by obeying god’s obligation and leave something that has already  prohibited, in other words, imtisali awamiri wajtinabi nawahihi.

Happiness or sa’adah and how to achieve it in Islamic scholar (Ulama) point of views

My dears Brothers in Islam,

For this great occasion, Again I remind myself and my brothers to strengthen our level of Taqwa to Allah (swt) the most holy, because with the taqwa we can obtain real happiness in this world and in the hereafter. The level our Taqwa can only be increased by obeying god’s obligation and leave something that has already  prohibited, in other words, imtisali awamiri wajtinabi nawahihi.

My dear brothers (rakhima kumuallah)

Some peoples who expert in the field of management say that success is not the key to happiness. According to them happiness is the key to success. Since the happiness is a central issue of human being, there are some strategies that has been discussed and elaborated across disciplines of knowledge.  Despite there are some literature try to capture the essence of happiness, the discussion is never ending process. There can not be single explanation about happiness. Some of us, as student may feel happy if we have done our assignment or higher research degree. On the other hand, some people may have a lot of money, but they can not feel anything with their money.  In this case, they argue that “happiness, has nothing to do with what we have and everything we do”.  It is true that with money we can buy anything. However, money in itself is not the sources of happiness. Happiness is a state of mind.  Be thankful or Syukur on what God has given to us can reduce our level of stressful.

Dilema Dakwah Kultural dan Struktural

Oleh Muhammad Adib Shomad (Ph.D Student Flinders Public Policy and Management).  Betatapapun bagusnya ajaran suatu agama (Islam) yang terekam dalam  melalui ayat-ayat suci al-Qur’an dan juga al-Hadith, namun demikian ajaran-ajaran  tersebut tidak akan memiliki makna yang berarti ketika tidak mampu di turunkan menjadi panduan yang sifatnya operasional  bagi kebutuhan manusia. Untuk itulah diperlukan  seperangkat ilmu yang dapat menggerakan dan menuntun manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. Salah satu perangkat ilmu yang dikenal adalah ilmu dakwah yang juga dipelajari secara akademik metodologinya di PTAI       (Perguruan Tinggi Agama Islam) mulai tahun 1968 berdasarkan SK Kemenag RI No 153 tahun 1968.

Mengenang Ibunda Tercinta

 (M. AdibAbdushomad, GJA  (Ponpes. Ribatul Muta’allimin Pekalongan Jawa Tengah)

Hari itu Sabtupagi 3 Desember 2011 seperti hari-hari biasanya beraktifitas di rumah bersama anak-anak dan berencana untuk pertama kalinya untuk main badminton di kampus. Pagi itu pula saya mendapatkan sms dari keluarga saya di Pekalongan bahwa Ibu saya dalam keadaan kritis dan saya harus banyak berdo’a lebih intensif. Berbeda dengan keterangan satu dua hari sebelumnya, kakak saya  yang  juga merupakan tenaga medis di rumah sakit tersebut dan juga dikuatkan dengan kunjungan keluarga dari Brebes bahwa kondisi IBu saya sudah sangat membaik dan akan segera pulang.  Akan tetapi, Allah SWT berkehendak lain bahwa Ibu saya Almarhumah HJ. Umi Hanik binti KH. Nachrowi, dipanggil oleh-Nya pada hari itu juga. Saya sudah memiliki firasat bahwa Ibu akan dipanggil oleh Allah SWT.