Community Engagement and How to Measure the Impact of Community Participation

Nampang buller 2Bali, Niko Hotel Nusa Dua, Nov, 2014

Salah satu trend yang tengah terjadi dalam diskursus Perguruan Tinggi dewasa ini adalah mempertanyakan kembali ‘ruh’ riset-riset yang selama ini dilakukan. Apakah riset yang selama ini dilakukan hanya memuaskan tujuan periset itu sendiri dengan mengekploitasi komunitas? Research is only conducted for the seek of the research itself. Dalam konteks inilah tema terkait riset dan partisipasi komunitas menjadi sangatlah penting. Ketika community engagement  telah menjadi paradigma, pertanyaan selanjutnya adalah apakah riset yang telah dilakukan dengan melibatkan komunitas (involving the community) tersebut dalam pengertian sesungguhnya? dalam arti memperlakukannya tidak sebagai laboratorium penelitian semata serta sebagai prasyarat Tri Dharma PT yakni telah adanya unsur pengabdian kepada masyarakat.

Lebih dari itu, dalam hal riset yang melibatkan masyarakat atau lazim disebut research community engagement, dewasa ini juga perlu diukur sejauhmanakah impact yang telah dihasilkannya. Oleh karena itu, mengukur tingkat keberhasilan dalam partisipasi dan pelibatan komunitas ini menjadi bagian yang tidak kalah pentingnya (how to measure the impact of community participation become essential element).

Setelah kita menyadari pentingnya truly community engagement dalam sebuah riset, seorang peneliti juga diharapakan lebih advance lagi dalam menggali knowledge yang ada di dalam masyarakat itu sendiri. Intervensi apakah yang perlu dilakukan setelah mengetahui problem di masyarakat (what kinds of  intervention should be done), begitupula merumuskan research question yang lebih bagus lagi yang dapat menggiring ke ide-ide terbaru dalam kerangka pengembangan masyarakat (develop new research idea). Bagi para penggambil kebijakan maka hasil riset kita dapatlah dikomunikasikan menjadi bahan untuk mengeksekusi kebijkan (policy) yang memang ‘senafas’ dengan kebutuhan komunitas.  Bahkan,  seorang periset yang bagus dapat mendorong masyarakat untuk dapat menggunakan hasil temuan riset tersebut (encourage people how to use the research findings).

Beberapa key themes sebagaimana dikemukakan diatas, adalah tema-tema besar yang disampaikan dalam the Second AsiaEngage Conference di Denpasar Bali, 17-20 November 2014. Sebelumnya konferensi telah dilaksanakan di UKM- Malaysia yang memiliki konsentrasi pada pembahasan bagaimana menterjemahkan riset komunitas kepada aksi nyata (Translating research community into real action). Di Bali dimana Indonesia menjadi tuan rumah yang dihost oleh UI (Universitas Indonesia) dan UKM (Universitas Kebangsaan Malaysia), mengambil tema spesifik tentang Collaborative with Communities to Tackle Problems Across ASEAN, ASIA and Beyond. Sebuah tema yang ambisius dalam mendorong komunitas untuk meneyelesaikan berbagai persoalan di berbagai tempat.

Lesson learned dari workshop Second AsiaEngage

Beberapa pelajaran saat pre-workshop dan juga plenary session yang diselenggarakan dalam konferensi ini adalah, bagaimana mempersepsi  community engagement, meng-evaluasi impact factor-nya serta pelajaran berharga dari berbagai pemakalah yang mempresentasikan hasil innovasi community engagement-nya.

Pertama terkait, community engagement itu sendiri, ternyata banyak sekali nilai yang dapat diambil antara lain bahwa kita mesti dapat menegosiasi antara interest kita sebagai peneliti, yang juga dosen yang dituntut publikasi terhadap penelitian yang sedang dilakukan. Pada saat yang sama, sebagai peneliti yang berinteraksi dengan komunitas kita berupaya ikut memecahkan problem yang sedang mereka hadapi. Menurut Hector dari MIT salah satu narsumber dalam topic yang disampaikan community participation evaluation, pelajaran yang dapat kita dapatkan bisa juga berarti kita sebagai periset ternyata salah dalam menganaalisis temuan dan kebutuhan komunitas setelah itu program tersebut dieksekusi disebabkan adanya problem kultural, dan treatment sewaktu melakukan riset yang berdampak terhadap hasil.

Dalam konteks inilah Hector dalam paper-nya mengingatkan akan pentingnya mengevaluasi proses dalam melakukan community engagement. Sebagaimana dijelaskan temuan dari distribusi beras raskin yang ternyata hamper 70 persen mengalami kebocoran. Ternyata impact-nya juah dari yang diharapkan karena persoalan kultural di lapangan yakni adanya  pendistribusian yang diberikan kepada semua pihak tanpa seleksi dan kriteria yang memadai, baik kaya dan miskin diberikan semua untuk menghindari konflik. Kebocoran ini juga dipicu adanya control dari pemimpin tertentu untuk mengalokasikan Raskin sesuai dengan kecenderungannya.  Disinilah milyaran rupiah digelontorkan pemerintah tidak memiliki dampak apapun, untuk itulah evaluasi menjadi penting, What is it about the program is functioning and not functioning? Based on evidence, what do we have to do for moving forward?

Kedua, terkait dengan impact dari riset partisipasif yang kita lakukan adalah sangatlah relevant untuk melihat perubahan dan intervensi yang perlu dilakukan. Possible intervention untuk melakukan perubahan dapatlah dilakukan dengan memberikan pengertian kepada local leadership, tentang  informasi hak-hak minimum mereka yang terkadang mereka tidak mengetahuinya. Kita fasilitasi forum untuk meningkatkan awareness masyarakat terkait hak mereka di puskesmas misalnya bahwa standard-nya berdasarkan peraturan harus ada beberapa dokter atau perawat, namun di lapangan yang ada hanya perawat, dan jika ada dokter ternyata tidak standby disana. Jadi, mensosialisasikan dan memfasilitasi pertemuan adalah langkah intervensi yang dapat dilakukan, socialize the minimum mandate to the community and facilitate processes through which they can encourage their leader to ensure these requirement should b available.

Memfasilitasi pertemuan dalam proses penelitian dengan melibatkan komunitas (community engagement) adalah sesuatu yang dapat kita control, karena kita dapat melakukan, memfasilitasi pertemuan tersebut, ini disebut sebagai out put dari community engagement. Berbeda dengan output, maka impact adalah hasil yang dihasilkan atau diharapkan diluar dari control kita sebagai peneliti.  Sekali lagi distingsi ini penting untuk melakukan program evaluasi, mengidentifikasi titik kelemahan dari program yang tengah dilakuan.

Untuk memberikan emphasis dua hal diatas, perlu saya kutip apa yang telah dimpulkan dalam workshop ini bahwa output adalah something that we as (researcher) can directly influence, or have the ability to control such as community participation. We can send them letter of invitation, etc.

Sedangkan , Impact adalah Something that we cannot control or influence such as mothers visit and receive quality care, or even best resource is there already.

Dalam konteks inilah, regardless how process and intervention has been made the important things is to be able to differentiate between out put and impact. You have to really say as researcher what your care about to be your impact  and your out out. Dan dapatlah kita lihat betapa proses evaluasi sangatlah essential untuk membenahi proses riset itu sendiri.  “The process Evaluation also essential to fix the process.”

Ketiga, pelajaran  berharga dari para pemakalah berbagai negara dalam menyampaikan paper-nya terkait pengalaman mereka bagaimana dalam mengeksekusi research based on community engagement. Saya melihat sebagian periset yang telah mendalami pentignya community engagement research, banyak melakukan hal-hal diluar ekspketasi riset-nya, bahkan jauh lebih dalam lagi membantu komunitas lebih luas untuk bangkit dari problem-nya. Sebagaimana presentasi dari periset UI tentang incubator bagi anak-anak premature yang berujung pada projek pembuatan incubator gratis untuk masyarakat tidak mampu berkolabirasi dengan industry dan pemerintah.  Peneltian komunitas yang memberikan layanan dokter gratis yang dikenal dengan doctor@share, oleh Dr. Lie dan penelitian lain sebagainya. Akhirnya mari kita jadikan komunitas bukan sekedar objek penelitian kita yang berujung pada paper publication yang dapat membantu status akademik kita, namun juga diharapakan ada out-put serrate impact yang nyata dan terasa bagi komunitas itu sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* 0+7=?