Kembali ke Adelaide (tanpa) keluarga untuk Wisuda PhD

H.M. Adib Abdushomad, Ph.D

Hati ini terasa hampa dan terpampang  wajah anaku di setiap sudut pesawat, dan disaat landing di kota Adelaide, 12 April 2014. Saya tidak menyangka akan secepat ini kembali ke kota Adelaide mendampingi Direktur Pendidikan Tinggi Islam, Prof. Dede Rosyada untuk follow up kerjasama-MoU dengan Flinders uni, Symposium, Indofest dan sekaligus wisuda PhD saya.  Namun sayang kali ini kembali ke kota yang telah lama saya tinggali sekitar enam tahun, tanpa disertai keluarga yang sedang berada di Rempoa-Ciputat.

Dalam perjalanan menuju tempat istirahat ke hotel, sepanjang jalan dari bandara Adelaide, istri dan anak-anaku serasa menyapa dalam setiap sudut kota ini, sungguh hatiku pilu, sedih dan sekaligus bangga kepada mereka. Karena merekalah yang telah mensupport saya yang pada akhirnya saya dapat merampungkan studi Ph.D saya ini on time (3,5 tahun) dengan izin Allah swt. Tanpa support dari mereka studiku ini sia-sia tanpa artinya.

Sudut kota Adelaide yang selama enam tahun aku lewati bersama anak dan istriku, soalah-olah menyapaku, setiap tempat ini memang mengandung memori yang kuat bersama mereka. Pada saat yang sama juga tergambarkan apa saja yang telah saya lakukan selama di Adelaide, perjuangan belajar, berinteraksi bersama masyarakat, dan tentu saja moment-moment spiritual. Perjalanan ini memang sepesial, karena saya juga tidak akan menyangka akan dapat mengikuti wisuda PhD ini. Apalagi, bersamaan dengan acara kantor yang sedang gencar-gencarnya mengembangkan kerjasama ke luar negeri, dan saya dapat kesempatan emas ini  (wisuda dan inovasi kerjasama perguruan tinggi) yang sudah saya susun sejak masa studi saya.

Inisiatif kerjasama ini memang sudah saya mulai saat saya sedang studi Ph.D di Flinders University (2010-2013), dimana saya melakukan pertemuan dengan Assoc. Prof. David Giles, Dekan Fakultas Pendidikan, Dr. Priyambudi (Director Asian Studies), Direktur Pascasarjana School of Social and Policy Studies, Prof. Janet McIntyre, dsb. Sepertinya pembicaraan tersebut menggelinding dengan menghadirkan beberapa utusan ke Jakarta seperti Ian (dari International office), Assoc. Prof. Kerry. Bissaker, yang diakhiri dengan penandatangan MoU pada tanggal 10 Maret 2014 oleh Rektor Flinders University, Prof. Micheal Barber yang datang langsung ke Jakarta dengan Dirjen Pendidikan Islam, Prof. Dr. Nur Syam, M.Si.

Peristiwa tersebut memberikan justifikasi bahwa hidup ini ibarat membuat halaman buku bagi diri kita sendiri, apa yang kita kehendaki ke depan dapatlah terjadi jika serius melakukannya. Apa yang saya lakukan di Adelaide, merupakan “buku harian” bagi saya; baik yang sifatnya backward (mengenang masa lalu) atau pun mendesign masa depan (move forward).

Selasa, 15 April 2014 adalah moment wisuda Ph.D saya di Flinders University. Kampus ini memberikan sejuta kenangan bagi saya. Sambutan Prof. Nancy Cromar (Pro. VC)  mewakili dari Flinders saat Indofest, 13 April 2014 mewakili suasana hati saya, dimana ia menyataka bahwa alumni flinders akan selalu dibawa kemana saja, kembalilah ke rumah (kota) ini yang telah menorehkan sesuatu dalam hidup Anda sebagai alumni. Sepertinya people to people link ini sejenak melupakan hiruk pikuk ketegangan yang sedang terjadi hubungan diplomasi Indonesia-Australia terkait penyadapan beberapa waktu yang lalu.

Terima kasih saya ucapkan kepada teman-teman, wa bil khusus KIA (Kajian Islam Adelaide) yang telah menyambut rombongan kami dengan rebana dengan alunan shalawat badar (utamanya saat keluar dari ruangan wisuda, sehingga membuat kagum Chancellor dan Vice Chancellor, begitupula beberapa dosen dan wisudawan Flinders University) dan tentu saja kajian kitab Ihya Ulumuddin. Saya ikut senang karena jamaah-nya yang semakin kompak  dengan spirit untuk terus belajar dan menghormati keragaman, menuju Islam rahmatan lil alamin. Pada saat yang sama saya juga mohon maaf tidak dapat bersilaturahmi dengan teman-teman yang lain lewat berbagai wadah pengajian (MIIAS, dsb), serta forum akademik yang lain di Adelaide, karena singkatnya kunjungan saya ini di Adelaide.

Begitulah perjalanan singkat saya ini yang saya gambarkan mengandung muatan spiritual tidak saja mengenang masa lalu, tapi membawa makna bahwa yang lalu akan mencerminkan saat ini. Oleh karena itu, buatlah yang lalu tersebut memberikan resonansi yang menyenangkan saat ini. Al faqir ila rahmati rabbihi (M. Adib Abdushomad, GJA)

4 comments for “Kembali ke Adelaide (tanpa) keluarga untuk Wisuda PhD

  1. November 5, 2014 at 6:18 am

    You share interesting things here. I think that your website can go viral
    easily, but you must give it initial boost and i know how
    to do it, just type in google – mundillo traffic
    increase

  2. Dedi siddiq
    November 12, 2014 at 6:40 pm

    Mabruk Mas Adib
    Ikut senang mendengarnya meskl telat memberikan ucapan selamat.
    Semoga keberkahan senantiasa menyertai tugas-tugas mas Adib dan juga segenap keluarga.
    Salam dari Maastricht
    Dedi Siddiq

  3. April 15, 2014 at 8:43 pm

    Terima kasih mas Fuad, semoga smpyn juga segera menyusul, keep in touch.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* 3+7=?