Ketika Saya Bermimipi “Mati”

Adib GJAM. Adib Abdushomad GJA

Pernakah Anda bermimpi mati? Mungkin sebagian dari kita ada yang pernah mengalami mimpi seolah-olah telah mati. Malam ini tepatnya Ahad 23 Juni 2013, di hari menuju malam nisfu sya’ban saya mengalami mimpi mati dan alhamdulilah karena sifatnya mimpi, saya beruntung dapat dikembalikan lagi dari mimpi tersebut hingga bisa menulis tulisan reflektif ini. Karena saya anggap ada nilai manfaat khususnya bagi saya dan orang lain, saya berusaha menulis langsung secara utuh perjalanan mimpi mati tersebut yang insyallah memiliki makna perjalanan spiritual yang baik untuk direnungkan bagi siapa saja.

Fenomena tidur sering kali diumpamakan sebagai “miniatur” orang yang meninggal dunia, atau merupakan jalan yang sangat terdekat untuk mengantarkan seorang menuju kematian. Artinya seandainya Allah swt tidak lagi mengembalikan nyawa kita ini, maka kita akan melanjutkan perjalanan tidur kita ke alam akherat nanti. Alam yang tentu saja berbeda dengan dunia, dimana alam kubur (barzah) merupakan transit pertama yang akan dilewatinya terlebih dahulu.  Sebagian dari kita seringkali taken for granted, kalau sudah tidur nanti pagi-pagi dikiranya secara otomatis akan bangun lagi dan beraktifitas seperti sedia kala. Sudah berapa banyak atau sering kita mendapatkan kabar berita adanya orang yang meninggal dunia tanpa sebab sakit apapun saat setelah tertidur? Artinya nyawanya telah diambil oleh Allah swt bersamaan dia tertidur berdampingan dengan istrinya, atau siapapun yang kebetulan sedang menemaninya. Ia telah tidur dengan mayat yang telah dicabut nyawanya oleh malaikat izrail. Inilah mengapa, saat beraktifitas termasuk tidur ini, menjadi sangat penting kiranya untuk berdo’a agar disaat kita dicabut nyawanya oleh Allah swt, dalam keadaan khusnul khotimah. Amin YRA.

Malam ini saat saya menulis adalah kira-kira dua jam, setelah saya bangun tidur dari mimpi telah mati atau lebih tepatnya mungkin menuju kematian. Saat itu rasanya saya tiba-tiba berada di wilayah konflik di daerah Timur Tengah (kurang jelas nama Negara di mimpi tersebut). Dalam mimpi tersebut saya seolah-olah terlibat dalam misi kemanusiaan memberikan bantuan bersama teman-teman. Ketika sebagian orang-orang sedang berkumpul, tiba-tiba saya dan teman-teman dikejutkan dengan suara dentuman bom yang meledak di sekitar masjid. Asap hitam mengepul di dekat masjid tersebut. Melihat begitu banyaknya korban jiwa yang sepertinya berjatuhan, saya dan teman saya (initial S, teman saya ini sangat jelas raut mukanya dalam mimpi saya) secara spontan turun menuju daerah pengeboman tersebut tanpa menghiraukan, atau mungkin juga lupa kalau saat itu berada di daerah konflik yang potensi bahaya dapat terjadi kapanpun.

Singkat cerita dalam mimpi tersebut, kami turun menuju kepulan asap hitam, melakukan pertolongan kepada siapa saja yang tergeletak meninggal dunia. Namun tiba-tiba saja, entah dari arah mana,  ada tembakan yang membabi buta mengarah kepada kami. Akhirnya konsentrasi kami dalam melakukan pertolongan pun menjadi buyar dan masing-masing menyelamatkan diri-sendiri.

Dalam mimpi tersebut, saya mungkin kurang beruntung. Saya berlari menghindari arah tembakan, namun peluru sepertinya menyasar di dada kiri saya. Saya terjatuh, terasa sekali keperihan di dada kiri saya. Mata saya sayup-sayup redup dan akan menutup, meninggalkan dunia ini. Subhanaallah, dalam kondisi seperti ini teman saya (S) melihat saya dan saya berusaha menjulurkan tangan, minta agar dibantu keluar dari areal ini. Ditatapnya mata saya yang sudah mulai redup ini oleh teman saya. Dengan rasa iba, dalam mimpi tersebut, teman saya mengangkat saya yang saat itu penuh dengan berlumuran darah.   Dalam kondisi seperti itu saya sempat membisiki kepada si (S),  minta tolong agar saya dibawa ke Indonesia saja, karena saya ingin dikebumikan di sana.

Saudara-saudaraku, saat saya menulis tulisan ini, dada kiri inipun sepertinya masih terasa perih merasakan bekas tembakan itu (karena mimpi kali ini sangat ekpresif, sehingga seolah-olah ada bekas yang terbawa). Dibawanya saya ke daerah yang aman. Saat itulah, sepertinya nyawa saya sudah mau hilang meninggalkan dunia ini. Terbayang ibu saya yang telah meninggal dunia, dan terbayang juga perjumpaan saya nanti dengan Allah swt mempertanggungjawabkan apa-apa yang telah saya perbuat di dunia ini. Sungguh, saya masih berfikir dalam proses transisi tersebut sekiranya saya masih mampu menambah bekal ibadah. Karena saya rasa bekal ibadah saya masih sangat kurang untuk bertemu sang ilahi rabii. Sayup-sayup saya dengar orang-orang sekeliling saya berkata;”wah beruntung sekali nih orang masih muda meninggal dunia, apalagi saat menolong orang”. Sekali lagi saya hanya mencoba mendiskripsikan perjalanan mimpi saya, tidak ada tendensi untuk melebihkan-lebihkan posisi saya dalam mimpi tersebut. Makanya saya langsung tulis mimpi ini saat setelah bangun malam agar memori saya masih segar dan tidak jauh dari peristiwa mimpi yang baru saya alami ini.

Dalam masa transisi ini, mungkin lazim sering disebut menjelang sakarotul maut, memang banyak “bunga-bunga” peristiwa-peristiwa dunia datang dan pergi menghiasi alam fikiran saya saat itu. Termasuk, saya berfikir” Waduh kok saya mau mati ya, sepertinya amal ibadah yang saya bawa belum cukup (sambil menyesali) tapi ya bagaimana lagi, orang sudah mau mati, jadi ya saya nikmati saja perjalanan menuju kematian ini”.  Yang sangat unik adalah dalam mimpi tersebut saya membayangkan pekerjaan tesis saya yang masih dalam tahap peneyelesaian. Dalam hati saya bergumam; “ waduh tesis terpaksa saya tinggal dan berharap ada yang memberi tahu kabar supervisor kalau saya sudah mati nanti”. Memang saya belakangan lagi pasang “gigi empat”, alias ngebut untuk merampungkan tesis. Jadi sangat maklum kalau urusan yang satu ini sepertinya memiliki porsi yang cukup signifikan dalam mimpi saya kali ini.

Saya merasakan ada makna yang sangat penting dan mendalam terkait peristiwa mimpi saya kali ini bahwa pekerjaan-pekerjaan dunia dan segala isinya saya sadari tiada artinya lagi, jika tidak diorientasikan kepada sang ilahi rabi. Bayangan saya saat itu tertuju kepada orang-orang yang “terbuai” dengan persoalan dunia yang tentu saja tiada artinya di mata Allah swt, jika tidak dalam rangka mencari ridho-NYA. Karena itulah Allah swt dalam beberapa ayat sucinya mengingatkan pentingnya kehidupan akherat nanti walal akheratu khairu laka minal ula.  Dalam gumam saya;” kalau seandainya orang sudah pada posisi seperti saya yaitu mau dicabut nyawanya oleh Allah swt, barulah mereka akan merasakan betapa tidak pentingnya persoalan kekuasaan dunia yang mereka perebutkan selama ini”.

Pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah swt, saat itu tubuh saya tiba-tiba sudah berada di rumah, dimana telah berkumpul banyak orang di sana, membaca yasin dan tahlil, ritual kegamaan yang selama ini saya lakukan. Saat itu saya ingin menyapa dan berkata kepada orang-orang tersebut agar saya dimaafkan, kalau sekiranya ada kesalahan-kesalahan. Kata maaf saya ucapkan, namun orang-orang tersebut hanya terdiam. Mereka  sibuk sendiri-sendiri, suasana ramai sekali.  Ada yang membaca al-Qur’an dan ada pula yang masih bercerita tentang saya, mengapa kok terjadi kematian ini dan lain sebagainya.

Saya rasa saya sudah mau mati betulan. Namun Allah swt, masih berkehendak lain. Saya terbangun dan sayapun pegang dada kiri saya. Masyallah, saya hanya bermimpi telah mati. Saya pun mengucapkan alhamdulilah karena masih diberikan kesempatan hidup lagi. Bergegas saya ambil air wudhu, saya bermunajat kepadaNYA, saya tumpahkan uneg-uneg yang ada dalam fikiran ini sambil meminta kepada sang Ilahi rabbi, sekiranya pada saat nanti mau dicabut nyawa saya yakni edisi yang betulan, saya memohon kepada Allah swt agar ditetapkan dalam keadaan iman dan Islam (khusnul khotimah) Allahumma amin. Air mata ini tidak terbendung karena kematian itu terasa sekali sangat dekat bagi saya.  Sepertinya  dalam mimpi itu saya telah menikmati proses mau mati ini dengan penuh ridho untuk kembali ke kampung Ilahi rabbi yang abadi, akherat nanti.

Pembaca yang dirahmati oleh Allah swt, suasana perjalanan ketika manusia mau mati tergambarkan cukup jelas oleh saya betapa dunia dan isinya tidak akan ada artinya kalau tidak diniati untuk menuju jalan ridho kepada Allah swt. Kita semua baru akan menyesali perbuatan kita selama di dunia ini ketika point of no return ini terjadi kepada diri kita. Terutama ketika kita sadar betul bahwa persiapan-persiapan yang ada masih sangatlah kurang, apalagi kalau dipenuhi dengan kecurangan, kebohongan, tipu muslihat dan dosa.

Tidak ada maksud apapun dalam tulisan ini kecuali mengingatkan kepada diri saya utamanya dan kepada saudara-saudarku se-Iman, bahwa perjumpaan dengan Allah swt adalah nyata, untuk itulah mari kita persiapkan diri kita secara lebih baik lagi. Jauhkan hal-hal yang dapat menjadi “penghalang” hubungan kita dengan Allah swt, karena itulah tantangan kita selama hidup di dunia ini. Terakhir jangan lupa, hendaknya kalau kita mau tidur usahakanlah untuk berdo’a (syukur-syukur berwudhu lebih dahulu),  karena kita tidak akan pernah tahu apakah Allah swt akan mengembalikan ruh kita lagi atau tidak setelah kita tertidur. Yang pasti adalah kita akan mati, persiapkanlah kematian yang pasti akan datang kapan saja ini dengan melakukan kebaikan-kebaikan selama hidup di dunia ini  (al faqir ila rahmati rabbihi, malam hari, Cashgrove Pasadena, Flinders Office-Adelaide, SA)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* 3+4=?