Empat perkara yang akan dimintakan “LPJ”-nya di akherat nanti

 

Adib GJAM. Adib Abdushomad GJA

Setiap organisasi  yang professional mulai dari yang kecil dan besar, biasanya ada agenda AGM (annual general meeting) yang salah satu pointnya adalah meminta pertanggungjawaban dari para pengelola organisasi terhadap para anggota atau konstituentnya.  Begitupula dalam konteks ini, sebagai orang yang beriman dan mempercayai adanya hari akherat nanti, maka kita juga akan dimintai laporan pertanggungjawaban (LPJ)secara individual. Saat itulah, hari hisab (yaumul hisab) dimana amalan-amalan yang ada di dunia akan direkap ulang, diputar ulang untuk kemudian ditanyai apa sajakah kesempatan yang telah diberikan di dunia ini. Apakah ia telah benar-benar telah diartikulasikan untuk bersujud, menyembah, dan beribadah kepada Allah swt? Atau dihambur-hamburkan saja tanpa manfaat?

Ketika manusia memasuki alam akherat nanti, tak satupun luput dari pertanyaan dari Allah swt, terlebih menyangkut empat perkara yang tidak dapat dihindari oleh manusia, sebagaimana diungkpakan dalam sebuah hadith (lan tazuula qadama abdin yaumal qiyaamah khatta yus’alu an arba’ati khisholin). Pertama, an umrihi fiima afnahu. Yakni terkait dengan umur yang telah diberikan oleh Allah swt untuk apa saja ia gunakan (dihabiskan) selama hidup di dunia ini. Bukankah, kita sering mendengar bahwa waktu begitu cepat berlalu (times goes so fast) dan tidak dapat digantikan, oleh uang sekalipun. Oleh karena itu saya tidak sependapat dengan ungkapan “times is money!”, karena “with the money we cannot simply buy our time left”. Waktu akan terus berjalan, oleh karenanya ia sangatlah berharga sekali  (Times is so precious we have to make the most of it). Karena waktu sangatlah berharga kita mesti menggunakkannya dengan sebaik-baiknya agar menjadi manusia beruntung tidak merugi, sebagaimana disinggung dalam surat al-asr (innal insaana lafi khusrin). Yang merugi adalah mereka yang tidak menggunakan waktunya untuk “beriman” serta mampu menggerakkan keimananya dengan wujud “amal sholeh”.

Kata kuncinya  adalah Iman dan amal sholeh. Jadi imanlah yang mampu menyelematkan manusia dari kebangkrutan dan kerugian yang diikuti dengan amal sholeh. Iman bagaikan “generator” yang mampu menimbulkan power, aliran tenaga bagi manusia. Jika orang mengaku beriman akan tetapi tidak menimbukan amal sholeh, maka sangat mungkin berarti  terjadi “konsleting” dalam berimannya. Seperti iman yang hanya di lisan saja, diucapkan saja tanpa ada tindakan kongkret. Atau sebaliknya tidak beriman tapi amal sholehnya bagus juga tidak bisa menyelematkannya alias masih tetap dalam kelompok merugi. Sering kita mendengar” Bapak itu orangnya baik sekali lho?, kamu kok tahu? karena sukanya beramal, membantu dan sekaligus beribadah”. Karena iman itu abstrak, yang dhohir atau nampakklah yang dapat kita lihat. Namun demikian sebagaimana tulisan saya sebelumnya, amalan-amalannya tersebut kalau benar-benar mengaku beriman ia adalah untuk tujuan mencari ridho Allah swt, bukan kekuasaan dunia yang sementara.

Sebaliknya ada juga yang barangkali mendengar ungkapan berikut “orang tersebut sering tidak menjalankan ibadah shalat, tapi rajin shodakoh, membantu kepada sesama, sangat tinggi toleransinya, memperjuangkan hak-hak minoritas, lalu bagaimana nih? ” Tetap saja masuk golongan yang merugi, karena konsep Iman dan amal shaleh adalah terintegrasi, tidak bisa dipisahkan. Adalah tidak sempurna imanya seseorang, jika  ia bangun pagi shalat tahajjud tiap malam, sementara tetangga kanan-kirinya kelaparan. Begitupula sangatlah merugi orang mengaku beriman, banyak membantu, bershodaqoh, tapi tidak menjalankan perintahNYA.    Karena iman kita hidup dan dalam dan dalam iman kita berjuang dan kembali kepada Allah swt.

Kembali kepada masalah umur kita di dunia ini bahwa yang harus diingat adalah kita hidup di dunia yang terbatas yang terkadang memiliki keinginan yang tak terbatas. Hingga pada saatnya nanti kita diingatkan oleh tubuh kita sendiri. Tanda-tanda tubuh ini memberikan signal akan telah terjadinya penuan dalam diri kita. Rambut yang mulai memutih, gigi yang sudah mulai pada rontok satu per satu, jalan yang sudah tidak setegap dulu kala, mata yang mulai rabun,  dsb.  Suatu tanda dimana tak akan lama lagi manusia akan kembali menghadap sang Ilahi rabbi, penciptanya. Oleh karena itu, mari kita gunakan waktu yang sempit ini dengan mampu memanfaatkan sebaik-baiknya. Uraian masalah hidup di dunia ini sebentar (bahasa jawanya “mampir ngombe” akan dibahas di tulisan yang lain).

Kedua, an sababihi fima ablahu, bagaimana masa mudanya telah dihabiskan. Sepertinya masa muda merupakan masa-masa yang penting dimana lompatan ataupun keterpurukan seseorang akan dapat  dilihat pada periode ini.  Banyak hadith lain yang menjelaskan periode masa muda ini terutama mengapresiasi mereka yang masa mudanya dipenuhi dengan komitment kegiatan keagamaan dan menjauhkandiri  ke arah kemungkaran. Dr. Muhammad Saeed Hawwa (2009) dalam bukunya “our youth; the key to success” banyak menyoroti dan menyemangati para kaum muda ini agar masa-masa mudanya tidak terjebak dalam perbuatan kemaksiatan yang di era sekarang ini sangat mudah diakses melalui dunia maya, internet, youtube, serta media sosial lainnya. Menurutnya kekuatan Iman dan peran orang tua sangatlah penting untuk menjaga kualitas kaum muda ini karena masa depan bangsa salah satunya ada di punggung para kaum muda yang energik dan antusias terhadap kemajuan. Tidak berlebihan pula jika kesuksesan suatu bangsa adalah mereka yang mampu menghandle kaum mudanya sebagai element sukses bangsa (any nation that properly deal its youth, has surely taken a great step toward a bright and successful future). Inilah mengapa saat masa muda akan juga menjadi perhitungan dan dipertanyakan karena perananya yang tidaklah kecil.

Ketiga, wa an ilmihi maadza amila bihi, ilmu yang diperolehnya untuk apa digunakan. Apakah untuk membimbing atau mencerahkan umat. Atau sebaliknya ilmu yang diperoleh untuk membodohi umat, apalagi membelokan umat supaya tidak menyembah, mencintai perintah Allah swt dan lebih cinta kepada golongannya. Inilah tugas utama para pemegang ilmu yang harusnya menjadi obor dalam “kegelapan”, bukan justru sebaliknya membuat yang terang menjadi samar, gelap menjadi tidak terang. Seorang ilmuan yang beriman akan berani mengatakan yang haq dan bathil karena dia tahu betul bahwa Allah swt akan memintai pertanggunjawaban di akherat nanti. Sedikit tambahan, sebagai ilmuan yang beriman, ia juga memiliki etika dan akhlaq strategi bagaimana prinispnya yang dipegangnya bisa masuk diterima tanpa melukai perasaan seseorang. Ini juga dibutuhkan ilmu dan strategi. Prinsip harus dibarengi dengan strategi. Dan strategi itu sendiri digunakan untuk sebuah prinsip. Jikapun kita memiliki prinsip yang benar, itupun harus ditegakkan dengan kesabaran, seperti contoh melalui fiqhu da’wah dengan mauidhoh khasanah dan juga wajidlhum bi llati hiya akhsan.

Keempat, wa an maalihi min ainak tasabahu wa fiima anfaqahu. Yakni akan dipertanyakan harta yang diperoleh darimana, begitupula untuk apa saja dibelanjakan atau dikeluarkannya. Khusus untuk masalah harta ini pertanyaan depan dan belakang, yakni masuk dan keluarnya harta komplit dipertanykan. Cara mencari harta halal harus dibelanjakan pula  ke arah yang baik-baik juga. Begitupula tidak bisa kita membelanjakkan harta yang didapatkan dari cara yang tidak baik, seperti hasil korupsi misalnya dengan hal yang baik, misalnya umroh, bantu masjid, menyumbang kegiatan dakwah, dsb. Semuanya akan dipertanyakan dan tidak ada satupun yang luput dalam pengamatan Allah swt. Boleh jadi pengadilan di dunia bisa dikelabuhinya, bisa diintervensi. Akan tetapi pengadilan yang se adil-adilnya akan membungkam seluruh tipu daya dan muslihatnya. Semogo kita semua diberikan kemampuan agar berhati-hati dalam menjalankan titipan usia kita, umur kita, ilmu kita serta harta kita ini dengan sebaik-baiknya. Amin YRA.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* 3+6=?