Bagaimana cara merasakan nikmatnya Iman?

Adib GJAM. Adib Abdushomad GJA

Sungguh banyak sekali diantara kita yang “kesulitan” dalam memaknai dan merasakan betapa sesungguhnya menjadi orang beriman itu adalah nikmat. Kesulitan ini karena, iman dan keIslam-anya dilakukan hanya secara taken for granted saja , di downloaded lalu di save, tanpa diamalkan secara serius dengan (riyadhoh) yang akhirnya menjadi sikap dan pandangan hidupnya, tidak sekedar kata-kata.  Dalam kaidah lughah bahasa Arab disebutkan  “Maa ar khosol khub in kaana kalaman”. Tidak ada artinya menyatakan rasa cinta jika hanya di mulut saja, karena ia memerlukan pembuktian. Cinta yang demikian adalah kebohongan alias palsu (man da’a khuba lilahi walam yantahi an maramihi fuhuwa kadzibun). Untuk itu, mari kita simak penjelasan serta cara mempraktekkan untuk mendapatkan nikmatnya iman tersebut.

Berikut ini adalah tip-tips bagaimana merasakan nikmatnya iman atau dapat pula dikatakan sebagai indicator, tanda-tanda adanya karunia “nikmat iman” di dalam diri seorang hamba sebagaimana disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW (as cited in khutbah muasyirah, diriwatkan oleh Imam shahih Bukhari dalam bab tentang ke-Imanan), Rasul berkata “tslasun man kunna fiihi wajada khalaawatal iman”, ada tiga perkara yang jika ada dalam diri seseorang, maka  dia akan menemukan betapa manisnya atau nikmatnya iman. Pertama, ayyakuna allahu warosulahu akhabba ilaihi mima siwahuma, yakni orang yang di dalam hatinya hanya dipenuhi kecintaan kepada Allah swt dan Rasulnya. Ketika Allah swt dan Rasulnya mendominasi di dalam hatinya, diterangkan dalam salah satu riwayat di hadith Arbain An Nawawi disebutkan,  maka Allah swt lah yang akan menjaganya setiap gerak-gerik dan langkahnya, subhanallah.

Kita tentu saja boleh mencintai anak, istri, pangkat dan jabatan serta atribut lain yang ada di dunia ini, namun cinta terhadap hal-hal tersbut mesti mendapatkan batasan atau “dibatasi” oleh kesadaran bahwa cinta kepada hal-hal tersebut akan ada titik akhirnya, atau tidak akan abadi. Hal ini dikarenakan apa yang sering terjadi adalah ketika cinta terhadap dunia dan segala  isinya berurat saraf mendarah daging dalam diri seseorang, maka lambat laun (read: cepat atau lambat) akan mengalahkan rasa cinta  kepada Allah swt dan rasulnya.  Ketika harta menjadi tujuan, pangkat dan jabatan menjadi “kebanggaan”, maka segala hal pun akan dilakukannya. Keadaan ini biasanya lalu menjadikan manusia lebih takut kepada sesama manusia dari pada kepada Allah swt sebagai pencipta dan rasulnya. Kalau manusia sudah tidak punya rasa malu dan takut kepada yang tidak mampu dilihat mata (al ghaib), maka sesungguhnya  ia akan lebih rakus dan membahayakan, karena yang dia takutkan sudah tidak ada lagi selain sesama manusia yang tentu saja dapat disuap dan dikendalikan.

Sebagai akibatnya dilanggarnya perintah Allah swt dan rasulnya, yang penting dunia dalam genggamanya. Ketika dunia sudah merasuk hinggap di dalam hatinya, maka  cahaya (nuur) illahi kian meredup dan semakin sulit menembus dalam dirinya. Ibarat cermin,  maka hatinya sulit memancarkan atau memantulkan kebaikan-kebaikan dalam diri, apalagi kepada sesamanya. Yang dipertontonkan adalah hebatnya memiliki kuasa (power) dan banyaknya harta (amwal) supaya dihormati di mata manusia. Tidaklah mengherankan  orang model seperti ini sangat mudah menggunakan segala sesuatunya untuk mendapatkan kekuasaan, dan setelah didapatkan kekuasaan itu ia gunakan tidak untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah swt dan Rasulnya dengan menjadi pelayan masyarakat yang baik, akan tetapi membangun kekuasaan yang jauh lebih besar lagi agar “kuasa dunia” tidak lepas di tangannya. Baginya boleh saja hina di mata Allah swt dan rasulnya, asal tidak hina di mata manusia di dunia yang fana’ ini. Supaya tidak hina di mata manusia, maka dunia harus dalam genggamanya meskipun harus melanggardan melupakan ajaran-ajaran Tuhan, Allah swt dan Rasulnya.

Post power syndrome adalah  penyakit yang sangat lumrah terjadi bagi mereka-mereka yang memiliki jabatan lalu takut dan “ngeri” membayangkan bagaimana kondisnya setelah tidak punya jabatan. Karena takut akan menjadi orang biasa, maka berbagai cara pun dilakukan, mulai dari pergi ke dukun, menyuap, memfitnah kanan-kiri dan lain sebagainya karena begitu cintanya terhadap jabatan dunia yang sedang ia pegang. Inilah fenomena yang terjadi dimana cintanya kepada dunia telah “membutakannya” sehingga lupa kepada Allah swt dan rasulnya.

Saat terjadi perang tabuk, sahabat Abu Bakar pernah diingatkan kepada Rasul, beliau berkata; “ hal tarakta li ahlika syaian ya Abu Bakr?” Qala Abu Bakar; “ taraktu lahumu allaha wa rasulahu. Jawaban yang sungguh luar biasa keluar dari mulut salah satu sahabat Nabi yang paling senior ini. Pertanyaan Rasul ini sesungguhnya menyiratkan seperti ini” apakah keluarga kamu telah kau tinggalkan sesuatu (bekal-bekal duniawi seperti makanan dan lain sebagainya) selama kamu akan berada di medan laga ini”? Jawaban Sahabat Abu Bakar “telah saya tinggalkan kepada mereka Allah swt dan rasulnya”. Makna yang lebih dalam dari penjelasan ini adalah menurut Sahabat Abu Bakar meninggalkan mereka dengan rasa cinta kepada Allah swt dan rasulnya (seadainya beliau gurur di medan laga), jauh lebih utama daripada  meninggalkan harta benda yang sifatnya temporer. Tentu saja Abu Bakar meninggalkan stok makanan dan buah-buahan untuk survive bagi keluarganya, akan tetapi meninggalan prinsip keimanan dan mengimani bahwa Allah swt akan menjaga keluarganya selama bertugas di medan laga adalah nilai edukatif yang luar biasa dan inilah bentuk contoh dari orang yang telah “memantulkan” cahaya nikmatnya Iman.

Kedua, orang yang dapat merasakan nikmatnya iman adalah mereka yang mencintai sesamanya karena cintanya kepada Allah swt (wa ayyukhiba abdan laa yukhibahu illa lillahi). Ini mengandung arti bahwa kita berteman, bersahabat lalu dekat satu sama lain semata-mata karena Allah swt. Maksudnya adalah, jangan sampai kita menjalin pertemanan, persahabtan karena adanya “kepentingan “ (vested interest ) semata. Akibat dari model pertemanan dan persahabatan seperti ini adalah jalinan persahabatan dan pertemanan hanya diarahkan selagi ada kebutuhan atau keperluan saja. Begitu yang diperlukan sudah tidak ada lagi dalam diri seseorang tersebut, maka akan ditinggalkannya. Ketika masih ada jabatan banyak sekali yang datang , bahkan banyak yang mengaku sebagai teman dekatnya, namun begitu ada masalah semuanya menafikan dan menjauhinya.  Makna lain dari kategori ini adalah kita mencintai, bersahabat dan berteman karena di jalan Allah swt, mengingatkan dalam kebaikan, ketaqwaan dan menjauhi segala larangan-larangnya. Oleh karena itu tidak dapat dikatakan sebagai sahabat dan teman yang baik dengan mengatakan;” Saya ikut berjudi , mabok, dugem, membuka aurat, karena menghormati teman saja”.    Sekali lagi “bertemanlah karena Allah swt, dan berpisah pun karena Allah swt”.

Yang terakhir ketiga, kita akan dapat merasakan nikmatnya iman kalau dalam diri kita memiliki atau timbul rasa tidak suka, benci terhadap kebhatilan dan kekufuran sebagaimana tidak suka terhadap api neraka (wa ayyakroha ayyauda fil kufri ba’da idz anqadhahu allahu minhu kama ayy yakrahu ayy yudzafa fi nar). Tidak ada satupun dari kita bercita-cita ingin masuk neraka. Untuk itu, kalau kita benci dan tidak suka akan dimasukkan dalam neraka, maka sebaliknya (mafhum mukhalafahnya) kita mesti benci tidak suka terhadap perkara yang bathil, kekufuran, hal-hal dapat menyekutukan kepada Allah swt (musyrik). Caranya adalah dengan menghindari perkara-perkara tersebut, namun jika diberikan kemampuan, maka alangkah lebih baiknya mengingatkan kepada sesama ( sebagaimana tulisan ini) dengan cara-cara yang baik ( bil mauidzhoh wal hasanah) dan tidak mudah berburuk sangka dengan menebarkan kebencian-kebencian. Memperbanyak dialog dan silaturahmi antar sesama menjadi salah satu kuncinya, the closest we can get the truth is through the dialogue (Mc- Intyre Janet, 2000).

Cara-cara yang baik untuk tanha anil faksya’ wal mungkar juga perlu diperhatikan. Karena kita tidak dapat memegang pada satu khadit saja untuk mengimplementasikan kandungan ajaran didalamnya. Hal ini dikarenakan ada berbagai macam hadith lain, bahkan petunjuk dari al-Qur’an bagaimana caranya memerangi kekufuran dan kebathilan secara komprehensif-integratif, mulai dari kerjasama para  ulama’, fukaha’ umara’, ulil amr  (state ruler)  serta partisipasi masyarakat.  Namun demikian, setidaknya jika kita melihat kemungkaran-kemungkaran dan dalam hati kita serasa tidak rela, insyallah kita akan termasuk dalam kategori ini, meskipun dianggap sebagai golongan iman terendah (fadzalika adh’aful iman) yakni tidak suka terhadap eksistensi kebathilan, kemakiyatan, korupsi, sebagaimana kita  takut terhadap siksa api neraka di yaumil qiyamah nanti  dan inilah seharusnya yang menjadi “sikap kita” terhadap upaya memerangi kemungkaran, kemaksiatan dan kebathilan. Semoga bermanfaat. Al faqir ila rahmati rabbihi. (Early morning at  Flinders campus, Adib, gja)

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* 2+3=?