Sekilas Model Pembelajaran Khas Pondok Pesantren

Adib GJA 

Pengantar

Banyak kalangan yang dulunya sempat memberikan konotasi kurang bagus terhadap pesantren sering disebut terlalu kolot, tradisional,  kini kelihatannya harus mau jujur mengakui bahwa pendidikan pesantren yang berbasis pada kekuatan pendidikan akhlaq atau karakter inilah yang diperlukan bangsa yang berbhineka tunggal ika ini. Apalagi di tengah-tengah krisis pemimpin yang otentik dengan pemahaman Islam yang integratif dan terbuka. Pesantren pulalah yang mempelopori dan memperkenalkan belajar ilmu secara berjenjang, dengan berbagai ragam pendapat para fukaha. Bahkan,  hemat saya justeru spirit dan nilai-nilai pesantren yang dianggap tradisional telah banyak dicopy-paste oleh sistem pendidikan modern dengan mengadoposi sistem pemondokan atau boarding school-nya serta bentuk-bentuk pendidikan Islam terpadu lainnya dengan enrollment yang sangat tinggi plus mahal, namun tetap saja sangat diminati. Lalu apa sesungguhnya cara pengajaran dan pengenalan Islam yang dilakukan di pesantren? Berikut sekilas profil jenjang pembelajaran yang dilakukan di pesantren yang diadopsi dan diolah dari pengalaman pribadi dan berbagai sumber. 

Salah satu kitab yang menjadi rujukan untuk motivasi belajar di pesantren adalah karya Az-Zarnuji, dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim-nya disebutkan bahwa dalam mencari ilmu bila ingin sukses maka harus memenuhi enam syarat: az-Zaka, kecerdasan, al-Hirs, semangat, al-Istibar, sabar dan ulet, al-Bulgah, modal, Irsyad al-Ustaz, petunjuk guru, Tulu az-Zaman, waktu yang lama. Tidak mengherankan jika melihat rujukan kitab ini banyak orang yang nyantri sampai puluhan tahun bahkan mendapatkan jodoh ketika mondok di Pesantren. Mencari gurupun juga tidak kalah rincinya, reputasi para kyai akan menjadi pertimbangan disamping setelah diterima menjadi santri dengan melihat silisilah (atau asalah kyai tersebut belajar agama kemana saja, dan lain sebagainnya). Seperti mencari supervisor, maka kita akan meliat CV-nya dan kompetensi keilmuan calon pembimbing. Begitupula untuk sosok kyai (ilmu dan juga kedalaman spiritualnya) akan menjadi pertimbangan utama.

Pengalaman saya, pendidikan yang dilakukan orang para kyai dengan pola 24 jam mengasuh para santrinya adalah secara normatif bertujuan untuk membentuk manusia yang pintar dan benar, pintar dalam artian bisa membedakan antara yang haq dan yang bathil, sedangkan benar dalam artian menjauhi sifat-sifat tercela yang bertentangan dengan agama dan negara, dengan demikian tercapailah derajat taqwa, mulia dan bahagia di dunia serta di akhirat kelak.

Belajar ilmu agama (Islam) di pesantren juga ada jenjang yang harus diikuti, disamping praktek riyadhoh (prihatin) yang biasanya dilakukan oleh para santri. Ada yang puasa dawud, puasa senin-kamis, serta shalat sunnah malam yang tiada berhenti. Jadi santri di tempa malam-malamnya dengan penuh aktifitas belajar sekaligus spiritual.  Ilustrasi ini ingin menggambarkan bahwa belajar agama memanglah tidak bisa secara instant, akan tetapi banyak variable yang sangat menentukan.

Dewasa ini beberapa pesantren setelah membuka sekolah dan juga perguruan tinggi umum di lingkungan pesantrennya menawarkan  juga ilmu ilmu-ilmu terapan disamping kurikulum dengan keilmuan yang berorientasi pada pengembangan wawasan, dan ketajaman penalaran, disiplin ilmu yang tengah dikembangkan adalah tafsir. Ini bisa dilihat pada kitab yang dipergunakan sebagai bahan kajian adalah tafsir al-Baidawi dan tafsir al-Jalalain. Di samping bidang studi tafsir ini, santri yang telah menempuh tingkat lima dan enam, telah mulai diorientasikan pada pengembangan keilmuan dengan mengikuti program musyawarah (berdebat tentang suatu tema). Di forum yang juga disebut juga dengan bahs al-masail inilah, masing-masing santri dengan keilmuan yang dimilikinya memberikan analisa dan sekaligus mengkritisi suatu permasalahan yang didiskusikan. Berikut ini contoh pengkelasan santri dan jenjangnya serta target pendidikan yang ingin dicapai, mengenai tingkatan ini antara satu pesantren dengan lainnya berbeda istilah. Ada yang memulai dengan istilah tingkatan Ibtidaiíyyah, tsanawiyyah serta alyiyyah ada pula penamaan berdasarkan skill yang akan dikuasai.

A. Target yang ingin dicapai tingkat Fashalatan

1.            Menguasai bacaan-bacaan shalat yang benar

2.            Pemahaman ketauhidan dasar

3.            lancar dan khatam Juz’amma’

4.            Hafal kitab Amsilah at-Tasrifiyah

5.            Memahami dan melaksanakan tatakrama sesuai isi kitab adab

B. Target yang ingin dicapai tingkat Jurumiyah

1.            Menguasai Gramatika Arab (dasar) yaitu kitab aj-Jurumiyah

2.            Lancar membaca al-Qur’an sesuai dengan kaidah tajwid (metode baca al-Qur’an)

3.            Kemampuan membaca kitab kuning  (minimal sesuai target kitab sorogan  Isya )

4.            Pendalaman dan pengamalan ketauhidan, ketaqwaan, akhlakul karimah dan amaliyah fiqhiyah dalam kehidupan sehari-hari

5.            Hafal kitab Imrithi

C. Target yang ingin di capai tingkat Imrithi

1.            Pendalaman kaidah-kaidah nahwiyah khususnya yang terdapat dalam kitab Imrithi

2.            Lancar membaca kitab kuning (minimal sesuai terget kitab sorogan Isya)

3.            Pendalaman dan pengamalan ketauhidan, amaliyah fiqhiyah dalam kehidupan sehari-hari dan berakhlakul karimah

4.            Hafal Nadzom Alfiyah Minimal 500 bait

D. Target yang ingin dicapai tingkat Alfiyah

1.            Pendalaman kaidah-kaidah nahwu dan saraf beserta dalil-dalilnya

2.            Penyempurnaan penguasaan dan pendalaman kitab sebelas (lafzan wa muradan )

3.            Dapat mempraktekkan atau meng-i’rab (suatu kalimat Arab)

4.            Khatam nazam Alfiyah 1000 bait

E. Target yang ingin dicapai tingkat Fathul Muin

1.            Pendalaman kaidah-kaidah Arabiyyah

2.            Mampu menyelesaikan salah satu tema persoalan keagamaan (Masail ad-Diniyah) beserta referensinya

3.            Menguasai ilmu-ilmu sosial kemasyarakatan

4.            Mempersiapkan diri untuk diterjunkan menjadi tenaga pengajar sorogan

5.            Pembekalan untuk dijadikan pengurus ditahun berikutnya

 Metode Pembelajaran

Ada lima metode pembelajaran yang digunakan santri dalam melakukan transformasi keilmuan, yaitu; sorogan, bandungan, hafalan, sorogan hafalan dan bandungan hafalan. Adapun teknik sorogan, yaitu sebagaimana dipraktekkan dalam pengajian sorogan seusai shalat Isya yang bertempat di masjid. Santri membacakan teks-teks kitab tertentu dan Ustaznya memperhatikan, setelah itu Ustaz memberikan materi tambahan dan selanjutnya santri meniru pembicaraan Ustaznya. Teknik memperhatikan tektualitas kitab ini memang dianggap normatif-konvensional, namun dalam keilmuan dasar, hal ini justru menjadi efektif, setidaknya pada dua kemanfaatan; pertama, santri sejak dini diperkenalkan cara menterjemahkan teks kitab perkata, meski dari bahasa Arab ke bahasa Jawa dan kedua, santri setidaknya mengetahui kedudukan kata perkata dalam bahasa Arab dan sekaligus kedudukan kata-kata berdasarkan ilmu gramatikal dan morfologi Arab (nahwu dan saraf).

Sementara teknik bandongan digunakan oleh Ustaz untuk mengkaji kitab tertentu, di mana seorang Ustaz membacakan dan menterjemahkan ke dalam bahasa Jawa teks-teks kitab yang dikaji dan terkadang Ustaz memberikan keterangan atau penafsiran seperlunya atas maksud teks-teks yang telah dibacakannya. Teknik bandungan seperti ini sebagaimana dapat diperlihatkan pada pengajian-pengajian tingkat dua ke atas.

Berbeda dengan sorogan dan bandungan, metode hafalan secara serentak digunakan oleh seluruh santri pada waktu pengajian sebelum subuh. Pilihan waktu dini hari ini dipandang baik untuk kecerdasan dan sekaligus otak tengah mengalami kondisi yang segar. Teknik ini digunakan sebagaimana biasanya pada teks-teks kitab yang berupa nazam. Santri mengulang-ulang teks-teks yang dihafal dan kemudian biasanya sang Ustaz menunjuk secara acak santri untuk menghafal bait-bait yang ditentukan Ustaz. Seperti biasanya, jika ditemukan santri untuk menghafalkan bait-bait tertentu sementara ia tidak hafal, santri tersebut dikenakan sangsi tertentu pula. Metode hafalan ini merupakan pintu masuk pengkajian terhadap literatur-literatur keislaman.

Hampir mirip dengan metode hafalan plus, hafalan sorogan sebagaimana dipraktekkan santri-santri pemula yang mengaji fashalatan dan juz’amma, santri membacakan teks-teks tertentu dengan cara hafalan di hadapan Ustaznya. Sementara metode bandungan-hafalan, dicirikan dengan sistem pengajian yang menyertakan santri dalam jumlah banyak dan seterusnya Ustaz menunjukan seorang santri atau lebih untuk membacakan dan menghafalkan teks-teks tertentu. Metode ini dipergunakan sejak lama ketika mengaji kitab I’raban, sebuah bidang studi yang mengkaji gramatikal dan morfologi Arab.

Pada level tertentu setelah santri mengusai gramatikal Arab dengan kitab Alfiyah dan I’lal, sehingga bisa membaca kitab kuning (karya ulama’klasik). Maka pembacaan cakrawala kitab akan ditingkatkan, yang kemudian ditindaklanjuti dengan latihan membahas masalah (bahsul masaail). Meski, latihan memang masih saya rasakan sebagian santri masih terjebak dengan pada kekuatan mengutip pendapat ulama’(qaul ulama’) dalam kitab-kitab tertentu dan belum melihat manhaj (cara memutuskan) masalah hukum (istimbath hukum ulam’dahulu), sehingga yang terjadi ada taqdis al afkar ad diny. Yaitu sakralisasi pemikiran para ulama’yang padahal terikat oleh dimensi ruang dan waktu. Model santri seperti ini, akan lebih bagus jika di tignkatkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi seperti (Ma’had Aliy) atau kuliah di PTAI yang memang focus ke bidang agama.

Transformasi Santri dan Fenomena “Primada Terbalik”?

Sub title dalam pembahasan tulisan ini adalah lanjutan dari sekilas mengenal model pembelajaran di Pesantren. Yang intinya ingin menjelaskan bahwa untuk belajar agama, haruslah diikuti disiplin ilmunya secara memadai dan tidak boleh mengambil Ilmu agama tanpa adanya panduan guru yang baik dan terpercaya keilmuannya. Santri yang kuat basic agamanya dan lalu melanjutkan ke perguruan tinggi, biasanya tidak mudah resah dengan berbagai isu-isu keagaamaan yang sering mengemuka di Negara atau dunia ini.  Model santri ini belakangan mendaptkan “saingan” dengan santri yang berangkat dari belajar ilmu umum, lalu belakangan (karena situasi tertentu) ingin mendalami ilmu agama dan dalam taraf-taraf tertentu kehidupan jauh lebih religious dari santri yang dulunya banyak melakukan riyadhoh dan ibadah keagamaan. Bahkan karena merasa mendapatkan mandat, sebagaian ada yang berupaya mendakwahkan pelajaran keagamaan yang didapatkannya tersebut kepada yang lain, termasuk kepada para santri yang dianggap ada beberapa perilaku keagamaannya yang melenceng.

Singkatnya dengan bekal yang kuat, santri-santri dengan model kombinasi ilmu agama dan umum secara integratif nantinya  diharapkan akan bisa menjelasakan masalah-masalah kontemporer keagamaan secara memadai dibantu dengan alat bantu ilmu-ilmu yang dipelajarinya di perguruan tinggi.  Memang ada yang barangkali fenomena “keterkejutan” bagi santri yang biasa terkungkung dalam model hafalan dan menerima pendapat ustadznya secara taken for granted lalu diajak untuk membongkar pendapat salah satu pengaram kitab fiqh yang dulu di pesantren di hafalkan secara apa adanya. Namun sebagian santri, yang melakukan studi lanjut mengalami gesekan-gesekan pemikiran yang menjadikannya semakin dewasa mensikapi masalah-masalah social keagamaan.

Mencermati Mobilitas kaum Santri

Dengan kombinasi ilmu agama dan ilmu yang diperoleh di perguran tinggi sebagian santri mengalami mobilitas ke kota. Beberapa ada yang tidak kuat dengan godaan kota, sehingga nilai-nilai serta pendidikan karakterk pesantrennya terlupakan. Mereka menjadi jarang lagi melakukan riyadhoh sebagaimana yang mereka dulu lakukan di pesantren seperti shalat sunnah malam dan puasa senin-kamis, serta amalan-amalan lainnya. Akan tetapi ada pula yang bersinergi dengan baik, kedalaman ilmu dan spiritualitasnya terjaga secara integrated. Tentu sosok yang ini yang ingin dicari dan dilahirkan dari format pesantren yang ideal.

Belakangan saya justru merasakan ada nuansa yang berbeda, yaitu sebut piramida terbalik. Alumni santri yang sempat mengenyam pendidikan tinggi dan lalu mengalami mobilitas duniawi, ternyata sedikit banyak telah mereduksi nilai-nilai pesantren yang dulu dilakukannya, sebagaimana saya sebutkan di muka. Sedangkan, alumni dari sekolah umum yang dulunya tidak begitu mengenal pesantren, bahkan menyindir pendidikan pesantren, sekarang ini  justru lebih religious, bahkan berani tampil sebagai daí dan rela meninggalkan mobilitas duniawi-nya dengan menekuni belajar agama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* 5+1=?