Solusi Mengatasi Problem Kebodohan Umat

Penulis : Syae’in

Naskah ini merupakan suntingan dari buah tangan santri Drs. KH. Syifa Cholil, M.Pdi yang secara khusus menyoroti problem keterbelakangan umat Islam. Sebagai agama yang sangat menjunjung tinggi serta memuliakan ilmu, sangatlah ironis ketika index prestasi umat Islam masih sangat jauh dari menggembirakan. Human development Index (HDI), jumlah publikasi jurnal international, dan penemuan energy terbaru dan terbarukan,  serta kriteria negara-negara maju (developed country) sebagian besar didominasi oleh mereka yang kita ketahui bukanlah Negara yang mayoritas adalah beragama Islam. Negara yang mayoritas Islam justru jauh tertinggal dalam kubangan keterbelakangan pendidikan yang telah berakibat fatal, yakni mudahnya diadu domba, terjebak dalam perang antar sesama Muslim, serta semakin jauh tertinggal watak peradabannya. Berikut salah satu petikan naskah otentik yang diambil dari salah satu juara lomba (juara ketiga) “Adib GJA Award” dengan tema Santri sebagai sumber integrasi ilmu, selamat membaca.

Bismillah Alhamdulillah, Puji syukur bagi Allah SWT, yang telah memberikan beberapa nikmat, diantaranya adalah nikmat fikiran, yang dengan fikiran tersebut manusia dapat mengupas segala ilmu pengetahuan, semoga dengan memuji kahadirat-Nya kita termasuk orang-orang yang pandai bersyukur. “An-Nikmah Idza Syukirat Qarrat wa Idza Kufirat Farrat” : Nikmat apabila disyukuri akan tetap (bahkan bertambah) dan apabila dikufuri maka nikmat tersebut akan lari (hilang). Shalawat serta salam semoga senantiasa terlimpah ruah kepangkuan baginda yang mulya Nabi Muhammad SAW, yang mana didalam sabdanya “Inna aula an-Nasi biy yaumal qiyamah aktsaruhum ‘alayya shalatan”. Artinya: Sesungguhnya manusia yang paling berhak atasku (syafa’atku) di hari qiyamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku. Semoga dengan berkah shalawat kita termasuk golongan minas Su’ada’I al-Maqbulin, Amiin.

Waba’du, Allah SWT mewahyukan alqur’an kepada Nabi Muhammad sebagai bentuk mukjizat yang agung. Mukjizat disini, (Syeikhina Al-Hajj Muammar Cholil) menjelaskan berkaitan dengan tiga kategori, yaitu Ilmiyyah, Lughowiyah, dan Syar’iyyah.

  1. Ilmiyyah (ilmu pengetahuan): dalam segi ini sudah jelas bahwa alqur’an adalah sumber dari keilmuan.
  2. Lughowiyah: alqur’an dalam segi bahasa sudah menunjukkan kemukjizatan, contoh seperti adanya ayat Muqoto’ah (ayat yang terdapat pada awal surat, seperti Yasiin, Alif Lam Mim, Dll). Dalam hal ini syeikhina menjelaskan bahwa ayat ini untuk melemahkan kekuatan orang kafir. sebab, orang-orang kafir ketika melihat alqur’an dibaca, mereka akan menutup telinga mereka, kemudian Allah yang maha mengetahui menurunkan ayat muqoto’ah, sehingga mereka (kuffar) merasa asing dengan bahasa tersebut dan berakhir dengan rasa penasaran yang besar.
  3. Syar’iyyah: rambu-rambu (undang-undang) yang bersandar pada agama, agar manusia tidak sembarangan dalam menjalankan peran dalam hidup.

 

  • PENDIRIAN MANUSIA DALAM ALUR KEHIDUPAN.

Dalam kehidupan masyarakat, sejak zaman dahulu (manusia pertama diciptakan) sudah berbeda-beda didalam menjalani tatanan undang-undang, bahkan sampai dizaman sekarang (era Globalisasi), manusia tetap saja mempunyai alur cerita sendiri-sendiri, sehingga kalau manusianya tidak mau mendasari atau membentengi diri dengan ilmu pengetahuan, sungguh jelas kiranya Dia hanya akan menjadi budak dari perjalanan panjang. Yang akan saya paparkan disini adalah tentang salah satu bentuk adanya pendirian-pendirian manusia, yang dalam kenyataannya satu banding sepuluh manusia yang berjalan pada koridor yang memenuhi syarat. Adapun golongan-golongan tersebut saya bagi menjadi empat golongan, yaitu sebagai berikut:

 

  1. Pendirian Golongan yang lebih Mensakralkan Harta Daripada Ilmu.

Yang termasuk golongan ini antara lain, orang-orang yang menjauhi ilmu (taarikul ilmi). Mereka beranggapan, kebodohan bukanlah sebuah keburukan yang perlu disesali, diatasi, dan bukan pula suatu problem yang harus di pecahkan, bahkan kekayaan itu mereka anggap sebagai karunia Allah SWT terhadap hamba-hamba yang di cintai-Nya agar hatinya sepenuhnya tertuju kepada-Nya, memurnikan hatinya dalam berhubungan dengan Allah, serta dapat menyayangi sesama manusia. Berbeda halnya dengan keadaan orang miskin yang hanya punya sebatas harapan-harapan semu, mereka beranggapan bahwa tuhan itu tidak adil, mereka sering menipu hanya untuk mendapatkan harta, itulah anggapan mereka..

Apabila problem ini belum ada yang bisa menangani, maka masyarakat bisa saja berebut wilayah untuk kepuasan diri dan menambah harta mereka. Apabila golongan ini belum juga berhenti maka orang-orang akan mudah meninggalkan kewajiban hanya demi memburu harta (menjadi budak harta).

2. Pendirian Golongan Jabariyah.

Golongan ini berbeda dengan golongan yang pertama didalam memandang problem kecerdasan. Mereka memandang bahwa kebodohan itu suatu bencana dan kekurangan. Disamping itu, mereka beranggapan pula bahwa kebodohan itu adalah suatu yang telah di takdirkan oleh Tuhan yang tidak membutuhkan kepada dokter dan obat guna mengatasinya. Kebodohan dan Kecerdasan yang dialami seseorang adalah merupakann kehendak dan ketentuan Tuhan. Kalau Tuhan menghendaki, niscaya semua orang akan menjadi pintar dan akan diberikan kepada mereka ilmu yang banyak. Tapi tidak demikian halnya, karena Tuhan menghendaki adanya akal fikiran untuk dapat membedakan antara satu dan yang lainnya, Dia merupakan pemberian dan penentuan ilmunya kepada siapa yang di kehendaki-Nya.

Konsep yang mereka kemukakan guna mengatasi problem ini adalah terbatas dengan memberikan nasihat kepada orang-orang awam agar mereka giat dalam belajar demi mengharap ridho Allah, sabar terhadap ujian, dan selalu merasa kurang terhadap ilmu yang di milikinya, karena merasa kurang terhadap ilmu adalah suatu cara untuk mencari yang lebih banyak dan menjadikannya Tawadlu’. Kesimpulan dari maksud jabariyah sendiri adalah “Semua Terserah Allah”

3. Pendirian Golongan Qadariyah.

Golongan Qodariyah adalah golongan yang mengatakan bahwa setiap perbuatan manusia adalah hasil dari usaha manusia itu sendiri tanpa ada campur tangan dari Allah (Innal abda yahluqu bifi’lihi), termasuk didalamnya adalah golongan mu’tazilah. Bahkan mereka (mu’tazilah) beranggapan bahwa Allah itu wajib menciptakan hal-hal yang baik, dan juga golongan mu’tazilah mengatakan “sesuatu yang tidak sesuai dengan panca indera maka tidak bisa diambil (ditolak)”. Sangat jelas sekali bedanya dengan golongan yang ke empat, yaitu

4. Pendirian Ahlis Sunnah wal-Jama’ah.

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa golongan Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah adalah golongan yang fleksibel/toleran (bukan berarti plinplan) sebagaimana islam (diin samaahah), ini adalah konsep ulama dalam mengambil langkah yang terbaik,

 

  • SOLUSI ISLAM MENGATASI KEBODOHAN.

Islam manyatakan perang kepada kebodohan, dan berusaha keras untuk membendungnya, serta mengawasi kemungkinan-kemungkinan yang dapat menimbulkannya, guna menyelamatkan aqidah, akhlaq, dan laku perbuatan, memelihara kehidupan bagi para remaja dan melindungi  ke-stabilan dan ketentraman masyarakat disampimg mewujudkan jiwa persaudaraan antara sesama anggota masyarakat (sosial).

Secara umum, Dunia sekarang makin tidak beriktikad baik terhadap islam, disamping iklim juga menaburi garam pada luka kaum msulimin, maka dari itu setiap individu wajib mempersiapkan dirinya untuk hidup yang wajar sesuai dengan keadaannya. Sehingga dengan tenteram mereka dapat melaksanakan perintah-perintah Allah, sanggup menghadapi tantangan hidup, mampu melindungi dirinya dari bahaya sengsara, hina, dan yang lebih menghawatirkan adalah jurang kebodohan yang dapat menjerumuskan.

Tidak bisa dibenarkan menurut pandangan islam seseorang yang hidup di tengah-tengah masyarakat muslim sekalipun orang kaya, tapi kurang cermat, maka akan mudah sekali terjerumus dalam hal-hal yang kotor (akhlaq al-qabihah). Kemudian apa yang seharusnya di perbuat oleh seseorang (kita khususnya) untuk mencapai hidup yang layak, didalam masyarakat yang mayoritas pemeluknya adalah muslim?. Dan bagaiman jalan yang perlu disumbangkan islam untuk menuju kepada taraf hidup yang mulya itu?. Jawabannya adalah, dalam mengantarkan dan memberikan jaminan terhadap pemeluk-pemeluknya untuk menuju kepada taraf hidup yang terhormat itu. Islam menyumbangkan berbagai macam cara dan jalan, diantaranya adalah : ‘Aaliman, Muta’alliman, Muhibban, (seperti keterangan dalam hadits).

  1. ‘Aaliman (Ahli dalam segala bidang keilmuan).

Sudah jelas sekali (Hitam diatas putih) bahwa ahli dalam segi ilmu pengetahuan sangatlah menjadi dasar untuk mengantarkan manusia mencapai standar kemulyaan, sebab diamini atau tidak bukan hanya segi agama yang membutuhkan adanya ilmu pengetahuan, tapi juga setiap segi kehidupan yang ada dalam lingkaran dunia pasti tidak mungkin menafikannya. Seperti halnya ibadah kalau tanpa ilmu maka sungguh akan menjadi seperti debu yang dihempas oleh angin. Contoh lain seperti mencangkul, kalau mencangkul tidak menggunakan ilmu, maka jelas yang terjadi adalah sesuatu yang sangat tidak diharapkan. Ini hanya sebagian kecil daripada betapa segala usaha dan upaya manusia tidak lepas dari ilmu pengetahuan.

2. Muta’alliman (menuntut pengetahuan).

Setiap jiwa yang hidup dalam bermasyarakat islam, diharuskan belajar dan mempelajari setiap pengetahuan yang ada, dan juga diperintahkan untuk berkelana dipermukaan bumi ini (uthlubul ilma walaw bis Shiin), serta diperintahkan untuk tidak hanya belajar, tapi juga melakukan sesuatu yang dapat mengantarkan dan menunjang system pembelajaran, seperti mengkonsumsi makanan-makanan yang halal. Seperti keterangan dalam qaidah fiqih “maa laa yutimmul wajib illa bihi fahuwa wajib”. Maksud dari qaidah tersebut kurang lebih, bahwa adanya menuntut ilmu adalah wajib hukumnya (seperti keterangan dalam hadits : Tholabul ilmi faridlatun ‘ala kulli muslimin wamuslimatin), maka dari itu segala sesuatu yang berkaitan dengan masalah tholabul ilmi juga wajib hukumnya. Seperti contoh adanya Sholat (maktubah) itu hukumnya wajib, maka adanya sesuatu yang dapat menjadikan sholat tersebut shah wajib juga hukum melakukannya, seperti halnya wudlu.

Belajar adalah senjata utama untuk memerangi kebodohan, dan juga modal pokok dalam mencapai keilmuan, dan juga sebagai factor dominan dalam menciptakan kemakmuran. Sebagaimana yang didakwahkan oleh al-Mukarram KH. Achmad Syifa Chalil pada sesi pengajian kitab kuning (Turots) beliau menjelaskan “carilah ilmu walaupun dinegeri sebrang dan harus menyebrangi lautan api” Dari keterangan tersebut sudah jelas bahwa mencari ilmu itu tidak akan terealisasi kecuali dengan adanya cobaan dan rintangan bahkan pengorbanan, karena mencari ilmu itu sebagaimana jihad, tapi tidak harus ada pedang terhunus ataupun merah amis yang mengalir, karena pena adalah senjata yang mana terdapat banyak kebaikan apabila menorehkannya, bahkan akan menimbulkan keburukan apabila saya khilaf atasnya, dan tinta yang mengalir diantara lembaran ilmu pengetahuan merupakan buah dari hasil pemikiran yang kemudian dituangkan kedalam wadah-wadah penulisan. Berangkat dari sini dapat disimpulkan bahwa betapa ilmu tidak akan bisa diraih kecuali dengan pengorbanan (waktu, tenaga, fikiran, dll).

3.Muhibban (cinta akan ilmu pengetahuan).

Cinta, banyak sekali yang mengumandangkannya, tapi kebanyakan dari mereka tidak dapat mendefinisikannya dengan sempurna. Sebab adanya cara yang ketiga ini tidaklah lepas dari cara yang kedua demi meraih cara yang pertama. Dalam sebuah maqalah dijelaskan “Maa arkhashal hub in kaanaa kalaaman”. Artinya: Alangkah murahnya sebuah cinta kalau hanya dibibir saja. Maksud dari maqalah tersebut tidaklah lain dan tidaklah bukan adalah sebuah pukulan bagi kita, sebab kita sering sekali menyatakan bahwa kita cinta akan ilmu pengetahuan, tapi pada kenyataannya, kita malah seakan-akan tidak perduli dengannya bahkan seringkali mencampakkannya, dan tentunya kita sangat sadar dengan apa yang kita lakukan. Sebab kalau seseorang sudah menyatakan cinta kepada sesuatu (ilmu misalnya) maka dia harus dengan sekuat tenaga untuk menjaga apa yang sudah dinyatakan. Sebab kalau misalnya tidak mau untuk menjaganya, maka jelas itu hanya kedunguan. Konsep cinta disini tidak boleh dipandang sebelah mata, sebab kalau kita tidak perduli dengan konsep tersebut, maka kita akan dicap sebagai orang yang tidak konsisten dengan pernyataan kita. “Man da’aa hubballah walam yantahi ‘an maharimihi fada’wahu kaadzibun”. Artinya: Barang siapa mengaku cinta kepada Allah tapi tidak mau menjauhi larangan-larangan-Nya, maka sungguh pernyataan tersebut adalah dusta.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa di Indonesia adalah yang paling banyak jumlah pondok pesantrennya, dan juga fasilitas-fasilitas yang lain juga hampir sampai pada titik sempurna, contohnya dalam bidang pendidikan, pemerintah telah menyediakan sekolah-sekolah baik yang formal ataupun non formal, tinggal kitanya mau apa tidak untuk masuk dalam bidang tersebut, sebab pendidikan sekarang tidak hanya untuk kalangan pelajar saja, bahkan lebih dari itu, pemerintah menggalakkan agar masyarakat tidak buta dalam masalah ilmu pengetahuan (seperti adanya Sekolah Paket). Yang jadi persoalan adalah, bisakah kita sebagai warga Negara memanfaatkan fasilitas yang telah disediakan? Atau bahkan sebaliknya kita malah menggunakan fasilitas tersebut untuk tujuan-tujuan tertentu. Ini adalah langkah pemerintah dalam mengentaskan kebodohan, kalau gagal setidak-tidaknya mampu mengentaskan dari keterpurukan. Dalam hal ini sesuai dengan Qaidah “Ra’yul Imam Manuthun Bil-Mashlahah”. Artinya: kebijakan pemimpin dikaitkan dengan kemaslahatan.

Sungguh tak sanggup saya menulis dan menguraikan tentang konsep-konsep islam dalam mengatasi problem kebodohan, karena tinta ini hanyalah setetes dari lautan konsep islam yang ada, yang mengalir dari pena ketidak mampuan bahkan ketidaktahuan. Bahkan tulisan inipun hasil dari tuntutan hati yang mewakili mata yang sering melihat fatamorgana. Tapi, semoga saja semua ini ada manfaat dan berkahnya. Amiin…

 

 

-“Sekian”-

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* 9+0=?