Materialisme

MATERIALISME
Oleh : Muamar, Lc, M.Ag*

Berikut ini adalah paper yang disarikan dari matakuliah Master Degree penulis di UIN Bandung. Penulis alumni Al-Azhar University Mesir ini, sekarang menjadi salah satu pembina di Ponpes Al Islhlah Assalafiyyah.  Tulisan berikut ini memang murni sebagai bagian dari tugas mata kuliah di UIN Bandung. Sehari-hari disamping mengajar kitab kuning khas pondok pesantren, ia juga mengajar di Madrasah Aliyah dan MTS di bawah yayasan pondok dengan pendekatan dua bahasa, Inggris dan Arab. Selamat menikmati tulisan tentang materialisme ini.    

Materialisme dapat diberi definisi dengan beberapa cara. Pertama, materialisme adalah teori yang mengatakan bahwa atom materi yang berada sendiri dan bergerak merupakan unsur-unsur yang membentuk alam dan bahwa akal dan kesadaran ( consciousness ) termasuk didalamnya segala proses fisikal merupakan mode materi tersebut dan dapat disederhanakan menjadi unsur-unsur fisik. Kedua, doktrin alam semesta dapat ditafsirkan seluruhnya dengan sains fisik. Kedua definisi tersebut mempunyai implikasi yang sama, walaupun cenderung untuk menjanjikan bentuk materialisme yang lebih tradisional. Pada akhir-akhir ini, doktrin tersebut dijelaskan sebagai energisme yang mengembalikan segala sesuatu pada bentuk energi, atau sebagai bentuk dari positivisme yang memberi tekanan untuk sains dan mengingkari hal-hal seperti ultimate nature of reality.

Materi dapat dilihat dari banyak cara yang berbeda- beda. Kadang-kadang kita berbicara tentang materi barang sesuatu, dan secara sederhana yang dikehendaki adalah substansinya. Dalam arti yang demikian ini, suatu barang secara sederhana berarti sesuatu yang darinya barang tersebut terbuat.
Dengan demikian, makna yang lazim yang dimaksud dengan istilah materi adalah menunjuk pada substansi yang khusus. Dalam arti ini, materi adalah perkataan yang digunakan sebagai nama jenis substansi yang mendasar dari alam fisik. Maksudnya dengan alam fisik di sini, adalah bahwa lingkungan hal-hal yang menimbulkan pengalaman inderawi, yakni alam objek-objek yang dapat merangsang alat alat kelengkapan indera kita. Dapat pula dikatakan, cirri-ciri dasar dari materi ialah eksistensi, penempatan ruang, kelambanan, gerakan, kepadatan dan lain sebagainya.
Dari penjelasan di atas, dapat di simpulkan bahwa materialisme adalah aliran dalam filsafat yang memandang bahwa segala sesuatu adalah realitas, dan realitas seluruhnya adalah materi belaka. Pada dasarnya semua hal terdiri atas materi dan semua fenomena adalah hasil interaksi material. Sesuatu dianggap ada apabila ia berupa materi yang memiliki bentuk dan meliputi tiga dimensi ( panjang, lebar, padat ). Dengan demikian materi adalah satu-satunya substansi. Semua berasal dan berakhir dengan materi atau berasal dari gejala yang bersangkuatan dengan materi. Ada beberapa alasan mengapa aliran materialisme ini dapat berkembang, diantaranya :
1. Pada pikiran yang masih sederhana, apa yang kelihatan, yang dapat diraba, biasanya dijadikan kebenaran terakhir. Pikiran yang masih sederhana tidak mampu memikirkan sesuatu di luar ruang yang abstrak.
2. Penemuan-penemuan menunjukan betapa ketergantungannya jiwa pada badan. Maka peristiwa jiwa selalu dilihat sebagai peristiwa jasmani. Jasmani lebih menonjol dari peristiwa ini.
3. Dalam sejarahnya, manusia memang bergantung pada benda, seperti padi. Dewi Sri dan Tuhan muncul dari situ. Kesemuanya ini memperkuat dugaan bahwa yang merupakan hakikat adalah benda.

II. PEMIKIRAN-PEMIKIRAN ALIRAN MATERIALISME
Aliran materialisme muncul pada pertengahan kedua abad ke 19, melalui tokohnya Ludwig Feuerbach ( 1804 – 1872 ) yang berasal dari Jerman. Dia sebenarnya adalah seorang dari sayap kiri pengikut Hegel.
Menurut Feuerbach, hanya alamlah yang berada. Oleh karena itu, manusia adalah makhluk yang alamiah. Segala usahanya didorong oleh nafsu alamiahnya, yaitu dorongan untuk hidup. Yang terpenting pada manusia bukan akalnya, tetapi usahanya. Sebab pengetahuan hanyalah alat untuk menjadikan segala usaha manusia berhasil. Kebahagiaan manusia dapat dicapai di dalam dunia ini. Oleh karena itu agama dan metafisika harus ditolak.
Kaitannya dengan agama, dia pun mengkritiknya. Dalam salah satu karyanya das wesen des christentums atau “ Hakikat Agama Kristen ” ( 1841 ), dia mengakatakan bahwa agama timbul keluar dari hakikat manusia sendiri, yaitu dari sifat egoismenya, dari pendambaannya terhadap kebahagiaan. Apa yang tidak ada pada dirinya sendiri, tetapi yang didambakan manusia digambarkan sebagai kenyataan yang ada pada para dewa. Oleh karena itu, para dewa sebenarnya adalah keinginan manusia yang digambarkan sebagai benar-benar ada dan yang digambarkan sebagai menjelma pada diri tokoh-tokoh yang ada. Oleh karena itu, seandainya manusia tidak mempunyai keinginan, ia tentu juga tidak akan beragama dan tidak akan memiliki dewa-dewa. Bahwa ada banyak dewa yang bermacam-macam, hal itu disebabkan karena manusia memiliki bermacam-macam keinginan, dan bahwa manusia memiliki bermacam-macam keinginan, hal itu disebabkan oleh adanya bermacam-macam manusia.

Sedangkan penyebab munculnya keinginan pada diri manusia karena adanya hubungan-hubungan kemasyarakatan. Perasaan-perasaan dan gagasan-gagasan keagamaan adalah hasil suatu bentuk masyarakat tertentu. Jikalau kita membicarakan manusia, tidak boleh kita membicarakannya sebagai tokoh yang abstrak, yang berada di luar dunia ini. Manusia berarti dunia manusia , yaitu Negara, masyarakat. Negara dan masyarakat inilah yang menghasilkan agama.
Satu-satunya asas bagi kesusilaan ialah keinginan untuk mendapatkan kebahagiaan. Sekalipun demikian, Feuerbach tidak mengajarkan egoisme, sebab sesama kita termasuk alam ini juga, manusia senantiasa hidup bersama dengan sesamanya. Itulah sebabnya, kebahagiaan orang lain harus diingat juga. Makin banyak orang yang diikutsertakan dalam usaha mencari kebahagiaan itu, makin besarlah bilangan manusia susila. Yang menjadi landasan kesusilaan adalah pengalaman. Pengalaman mengajarkan bahwa di dalam usaha mencari kebahagiaan itu, manusia harus ingat akan sesamanya.
Selain itu, menurut materialism bahwa di dalam hidup kemasyarakatan satu-satunya yang nyata adalah “ adanya masyarakat ”. Kesadaran masyarakat, yaitu ide-idenya, teori-teorinya, pandangan-pandangannya dan lain sebagainya hanya mewujudkan suatu gambar cermin dari yang apa nyata. Oleh karena itu, jikalau kita ingin mengerti mengenai daya-daya pendorong yang ada di dalam hidup kemasyarakatan, kita jangan berpangkal dari ide-ide atau teori-teori itu, sebab semuanya itu hanya gambaran-gambaran, hanya lapisan atau ideologis dari hal yang nyata. Kita harus mencari landasan material hidup kemasyarakatan ialah : cara berproduksi barang-barang material.

Kaitannya dengan aktifitas materi, materialisme berpendapat bahwa materi dan aktifitasnya bersifat abadi. Tidak ada penggerak pertama dan sebab pertama. Tidak ada kehidupan, tidak ada pikiran yang kekal. Semua gejala berubah, akhirnya melampaui eksistensi, yang kembali lagi ke dasar material primordial, abadi, dalam suatu peralihan wujud yang abadi dari materi. Sebagai contoh, materialisme berpendapat bahwa biji berasal dari tumbuhan. Dan tumbuhan pun berasal dari biji. Dan seterusnya berputar tanpa henti. Materialisme tidak mampu serta tidak mempercayai siapa yang menciptakan tumbuhan atau biji pada tahapan yang pertama. Karena menurutnya perubahan biji pada tumbuhan atau sebaliknya bersifat abadi atau tiada henti.

Materialisme juga selalu menemui kesulitan dalam menjelaskan fenomena-fenomena psikologis seperti pemikiran, keyakinan, keinginan, niat serta indera pengalaman. Atau setidak-tidaknya berbicara tentang fenomena tersebut.
Selain pandangan-pandangan diatas, satu hal yang sangat penting dalam ajaran materialisme adalah ketidakpercayaanya pada entitas-entitas nonmaterial seperti : roh, hantu, syetan, dan malaikat. Pelaku-pelaku immaterial tidak ada. Dengan demikian tidak ada Allah atau dunia adikodrati / supranatural.

III. ALIRAN-ALIRAN DALAM MATERIALISME
Materialisme tidak seluruhnya dari dulu sampai sekarang dalam satu konsep pendapat yang tetap dan sama. Akan tetapi, materialisme mengalami perubahan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Adanya aliran dalam materialisme tersebut hanya terbatas dalam pemikiran atau ide-ide saja yang disebabkan oleh adanya pendekatan yang berbeda. Adapun aliran-aliran tersebut adalah :

1. Materialisme Lama
Aliran ini berpendapat bahwa alam adalah unsur yang terbentuk dari atom materi yang berada sendiri dan bergerak. Aliran ini juga menggunakan energisme, yakni mengembalikan segala bentuk sesuatu pada energi. Mereka juga berpendapat bahwa manusia sama halnya seperti kayu dan batu. Tapi di sini bukan mereka berpendapat bawa manusia sama dengan kayu dan batu, namun pada akhirnya semua adalah materi, hanya materi.

2. Materialisme Modern
Materialisme ini dalam beberapa hal tidak sesuai dengan pendapat para pendahulunya. Perbedaan tersebut karena munculnya pendekatan yang berbeda diantara keduanya. Dalam materialisme modern pendekatan ilmiah / metode ilmiah sudah bermunculan. Selain itu, pada materialisme modern objek kajian lebih spesifik. Karena dua hal tersebutlah, materialisme ini berbeda dengan pendahulunya.

Aliran ini berpendapat bahwa alam (universe) merupakan kesatuan material yang tak terbatas. Alam, termasuk di dalamnya segala materi dan energi selalu ada dan akan tetap ada. Dan alam (world) adalah realitas yang keras, dapat disentuh, material, objektif, yang dapat diketahui manusia. Materialisme juga mengatakan bahwa jiwa ada setelah materi, jadi psikis manusia merupakan salah satu gejala dari materi yang ada. Dunia materiil adalah dunia yang pertama, sedangkan pemikiran tentang dunia adalah nomor dua.

3. Materialisme Dialektis Historis
Materialisme jenis ini merupakan ajaran dari Karl Marx ( 1818 – 1883 ), sehingga aliran ini juga sering disebut dengan aliran Marxisme. Marx semula belajar di Bonn dan kemudian di Berlin. Di Berlin, ia terpikat oleh filsafat Hegel. Semula ia bekerja sebagai wartawan, kemudian pindah ke Paris, tempat ia bertemu dengan Friedricht Engels ( 1820 -1895 ). Karena pertolongan Engelslah, Marx dapat meneruskan karya ilmiyahnya. Ketika ia diusir dari Perancis ia pindah ke Brussel. Pada waktu meletus revolusi di Jerman tahun 1848, pindahlah ia ke Koln. Setelah ia diusir dari Jerman pindahlah ia lagi ke Paris dan akhirnya berdiam di london hingga ia meninggal dunia. Adapun pokok-pokok ajaran aliran ini adalah :

1. Teori materialisme Historis
2. Perjuangan kelas ( class struggle )
3. Teori nilai dan teori lebih

Dikatakan materialisme historis karena menurut teorinya, arah yang di tempuh oleh sejarah ditentukan oleh perkembangan sarana-sarana produksi yang materiil. Marx berkeyakinan bahwa arah sejarah manusia akan menuju pada satu arah yaitu komunisme. Dengan kata lain, segala kepemilikan pribadi akan diganti dengan kepemilikan bersama. Fase sejarah seperti ini mutlak terjadi, oleh karena itu perjuangan kelas adalah hal utama yang perlu dilakukan. Sedangkan dikatakan materialisme dialektik karena menurutnya bahwa keadaan peristiwa kehidupan akan berubah, seperti layaknya benih pohon yang akan berusaha berubah wujud menjadi pohon. Dalam hal ini, Marx mengemukakan teori Tese, Antitese, dan Sintese. Tese adalah keadaan awal, dimana manusia hidup dalam komunitas asli tanpa pertentangan kelas. Lalu antitese, dimana mulai muncul kelas kaum kapitalis dan kaum protelar, maka timbul krisis yang hebat dimana pada akhirnya kaum protelar bersatu untuk mengadakan revolusi. Selanjutnya terjadilah masyarakat tanpa kelas, dimana produksi menjadi hak milik bersama atau negara.

Materialisme dialektik ini timbul dari perjuangan sosial yang hebat, yang muncul sebagai akibat dari revolusi industri. Menurut materialisme, di dunia ini tidak ada sesuatu selain benda dalam gerak ( matter in motion ). Benda tidak akan dapat bergerak kecuali dalam ruang dan waktu. Tiada tempat bagi Tuhan di dunia ini. Oleh karena itu, materialisme dialektika merupakan buah dari teori gerak dan perkembangan.

Akan tetapi, harus diakui bahwa ada hal-hal besar yang dikemukakan marx. Ialah orang pertama yang dapat melihat arti landasan ekonomi hidup kemasyarakatan secara luas sekali. Juga dialah orang yang dapat melihat kenyataan adanya perang kelas di dalam sejarah dan pengaruh faktor-faktor itu pada perkembangan kebudayaan dan kerohanian. Sayangnya, semua itu dijadikan satu-satunya pangkal yang mutlak bagi pandangan dunianya.

IV. MATERIALISME DAN ALIRAN LAINNYA

1. Materialisme dan Naturalisme
Kedua aliran tersebut sangatlah berkaitan erat. Naturalisme adalah ajaran yang menyatakan bahwa metode filsafat yang terus menerus dan berkaitan dengan ilmu-ilmu alam. Naturalisme adalah ontologis netral tentang materialisme, sehingga secara logis kompatibel dengan dualisme ontologis. Selain itu, materialisme mengandaikan naturalisme, dan dengan demikian tidak cocok dengan dualisme.
Naturalisme memandang bahwa alam merupakan keseluruhan realitas. Istilah ” natura ” telah dipakai dalam filsafat dengan bermacam-macam arti, dari dunia fisika yang dapat dilihat oleh manusia, sampai pada sistem total dari fenomena-fenomena ruang dan waktu. Natura adalah dunia yang diungkapkan oleh sains dan alam. Istilah naturalisme merupakan kebalikan dari istilah supernaturalisme yang mengandung pandangan dualistik terhadap alam dengan adanya kekuatan atau ada ( wujud ) di atas atau di luar alam. Materialisme adalah suatu istilah yang sempit dan merupakan bentuk naturalisme yang lebih terbatas. Materialisme pada umumnya mengatakan bahwa duni ini tidak ada selalu materi, atau nature ( alam ) dan dunia fisik adalah satu.

2. Materialisme dan Idealisme
Idealisme adalah doktrin yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat dipahami dalam kebergantungannya pada jiwa ( jiwa ) dan roh ( spirit ). Istilah ini diambil dari ” idea ”, yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Keyakinan ini ada pada Plato. Pada filsafat modern, pandangan ini mula-mula kelihatan pada George Barkeley ( 1685 – 1753 ) yang menyatakan bahwa hakikat objek-objek fisik adalah idea-idea. Idealisme secara umum selalu berhubungan dengan rasionalisme. Ini adalah madzhab epistimologi yang mengajarkan bahwa pengetahuan a priori atau deduktif dapat diperoleh manusia dengan akalnya.

Materialisme dan Idealisme merupakan dua aliran yang berbeda. Materialisme berpendapat bahwa pikiran kita, otak dan tubuh hanya menunjukan bentuk spesifik dari materi. Dengan demikian, pikiran dan kesadaran kita adalah properti sekunder dari materi. Sedangkan idealisme berpendapat bahwa tidak ada dunia materi tersebut. Karena pada hakikatnya dunia materi adalah proses mental dan pikiran kita. Apa yang dirasakan dan dilakukan bukan merupakan hal yang dihasilkan dengan sendirinya. Akan tetapi diciptakan oleh pikiran. Selain itu menurut aliaran idealisme, dunia pada dasarnya merupakan contoh utama sebuah ide absolut.

Kaitannya dengan dunia, apakah dapat diketahui atau tidak, materialisme berpendapat bahwa dunia dapat diketahui. Melalui ilmu pengetahuan kita telah mampu memperoleh banyak pengetahuan. Materialisme menolak gagasan pengetahuan mutlak. Ilmu dapat meningkatkan pengetahuan kita, tetapi tidak dapat menemukan kebenaran yang hakiki dan absolut. Cara kita mendapatkan pengetahuan yang lebih adalah dengan melakukan eksperimen, memverivikasi teori serta menjelajahi dunia material. Sedangkan menurut idelisme, kita tidak dapat mengetahui dunia. Karena menurut idelisme, dunia adalah berdasarkan prinsip fundamental atau mutlaknya ide. Sedangkan cara untuk mendapatkan pengetahuan adalah theoretize, debat dan mendiskusikan tentang ide yang merevlesikan prinsip dasar alam atau ide absolut.

Dan satu hal yang tidak boleh dilupakan, bahwa berdasarkan pada materialisme dan kemajuan ilmu pengetahuan di berbagai bidang, kita dapat menyaksikan kenyataan bahwa manusia telah mampu mengumpulkan berbagai macam pengetahuan dalam bebarapa ratus tahun yang lalu. Sebagai contoh, kita memilki pemahaman yang mendalam ( tetapi masih belum lengkap ) bagaimana proses alam yang menyebabkan evolusi dan bagaimana ia masih bekerja sampai hari ini, kita memiliki pemahaman mendalam tentang hukum-hukum fisika alam semesta dan asal usul kosmos ( relativitas khusus, relativitas umum, mekanika kuantum, prinsip ketidakpastian, dinamika kuantum khrom, perluasan alam semesta dan lain-lain ). Walalupun kita menyadari bahwa kita tidak memiliki dan tidak akan pernah memiliki pemahaman yang lengkap.

3. Materialisme dan eksistensialisme
Dalam pandangan materialisme, baik yang kolot maupun modern, manusia itu pada akhirnya adalah benda seperti halnya kayu dan batu. Memang orang materialis tidak mengatakan bahwa manusia sama dengan benda seperti batu dan kayu. Akan tetapi, materialisme mengatakan bahwa pada prinsipnya, pada akhirnya manusia hanyalah sesuatu yang material. Dengan kata lain materi dan betul-betul materi. Menurut bentuknya, memang manusia lebih unggul ketimbang sapi, batu, atau pohon, tetapi pada eksistensinya manusia sama saja dengan sapi, pohon dan batu. Dilihat dari keberadaannya juga sama.

Eksistensialisme menyatakan bahwa cara berada manusia dan benda lain tidaklah sama. Manusia berada di dunia, sapi dan pohon juga. Akan tetapi, cara beradanya tidak sama. Manusia berada di dunia, dengan keberadaan yang dilengkapi dengan kesadaran. Manusia menghadapi dunia, menghadapi dengan mengerti yang dihadapinya itu. Manusia mengerti guna pohon, batu, dan salah satu diantaranya ialah ia mengerti bahwa hidupnya mempunyai arti. Dan apa arti ini semua? Artinya ialah bahwa manusia adalah subjek. Subjek artinya yang menyadari, yang sadar. Barang-barang yang disadarinya disebut objek.

Dengan membandingkan aliran materialisme dengan aliran yang lain tersebut, kita bisa menemukan beberapa kritik dan bantahan terhadapa materialisme. Diantaranya kita bisa melihat Rene Lara Sene, seorang eksistensialis berpendapat bahwa kelemahan materialisme adalah memandang semua yang ada adalah materi yang tidak ada sedikitpun perbedaan. Prinsip detolasisasi materiil dipandang sebagai kesalahan materialisme oleh Lara sene. Maksudnya memungkiri manusia sebagai keseluruhan. Pandangan materialisme itu, belum mencakup manusia secara keseluruhan. Pandangan tentang manusia seperti pada materialisme itu akan membawa konsekwensi yang amat penting. Lahirnya eksistensialisme merupakan salah satu dari konsekwensi itu.
Selain itu, para ilmuwan modern berpendapat bahwa materialisme mengingkari faktor penting dalam kehidupan, misalnya cinta dan kebaikan. Padahal kedua faktor tersebut merupakan faktor penting dalam keberhasilan usaha manusia.

Adapun bagi kita sebagai umat islam, materialisme merupakan salah satu aliran dalam falsafah yang bertentangan dengan agama atau keyakinan kita. Hal itu terjadi, karena materialisme tidak mengakui adanya Dzat Yang Mutlak dan unsur metafisika / ghoib. Kehidupan bukan hanya yang terlihat saja, akan tetapi ada kehidupan yang tak terlihat. Kita sebagai orang islam percaya akan adanya sesuatu yang ghoib / tidak kelihatan seperti malaikat, syetan, jin, dan lain sebaginya. Dan puncak dari apa yang ghoib adalah Allah SWT pencipta alam semesta. Akan tetapi satu hal yang perlu kita ketahui, bahwa memang materialisme bertentangan dengan islam. Akan tetapi, itu tidak berarti materialisme bertentangan mutlak 100 %. Karena dalam materialisme ada point-point yang dapat diterima oleh kita.

V. PENUTUP

Materialsme adalah aliran yang berpendapat bahwa segala sesuatu adalah dari dan kembali pada materi. Seuatu diangap ada apabila ia berupa materi yang memiliki bentuk dan tiga dimensi. Adapun dasar ideologi yang dijadikan sebagai dasar keyakinan aliran materialisme secara umum adalah :
1. Segala yang ada ( wujud ) berasal dari satu sumber yaitu materi
2. Tidak meyakini adanya alam ghaib
3. Menjadikan panca indra sebagai satu-satunya alat mencapai ilmu
4. Memposisikan ilmu sebagai pengganti agama dalam peletakkan hukum
5. Menjadikan kecondongan tabiat manusia sebagai akhlaq

Penulis adalah salah satu Pembina di Ponpes Al Ishlah Assalafiyah Luwungragi BREBES-JATENG

2 comments for “Materialisme

  1. Syem Sudin
    April 30, 2012 at 10:14 pm

    asalamualaikum
    wah mas Amar apakabarnya nih beliau??? juga Gus Adibnya?????
    termotivasi oleh tulisan guruku ini, apalagi tulisan Gus Adib sangat lugas,,,,
    jadi saya yang lagi belajar sangat termotivasi sekali
    salam dari Cairo Gus

    • May 1, 2012 at 12:55 am

      Salam,

      Terima kasih, selagi dapat kesempatan belajar di Cairo, saran saya pergunakan kesempatan tersebut sebaik-baiknya. Kalau bisa sambil menterjemahkan beberapa kitab yang dianggap penting untuk diketahui masyarakat luas menebarkan Islam yang merahmati seluruh alam, menebarkan kedamaian serta memperkuat ummat sebagaimana dicontohkan oleh junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Saling mendo’akan saja, saya juga lagi menimba ilmu di Australia, semoga diberikan keberkahan, ilman nafi’a. Amiin

      (Adib)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* 4+1=?