Bagaimana rasanya membayangkan keadaan bangsa Indonesia, kalau kita berada di dalamnya? Mungkin terasa sullit rasanya untuk mengekplorasi dan mengembangkan olah rasa, karena barangkali pola hidup masyarakatnya sudah tersendera oleh keadaan khas Indonesia setiap harinya. Mulai dari gossip politik, sensasi seleberiti, ketidaktertiban, rendahnya kesadaran hukum, bahkan sampai dengan isu transportasi, geng motor dan kemacetan yang tidak kunjung datang solusinya silih berganti mewarnai . Dibombardir dengan berbagai masalah tersebut, sepertinya masyarakat Indonesia menjadi terbiasa dan menggangapnya sebagai sesuatu hal yang wajar. Lalu bagaimana sesungguhnya perasaan kita ketika berada di luar negeri, lalu melihat Indonesia dari kejauhan? Meskipun baru sekitar kurang lebih empat tahun tinggal di Negara Kangguru (Australia), saya merasakan ada hal-hal baik yang bisa diambil dari Negara lain untuk dikembangkan di Indonesia.
Tentu saja tulisan ini tidak bermaksud membandingkan antara Indonesia sebagai Negara berkembang dan Australia yang merupakan Negara maju. Hanya saja, sebagai warga Negara Indonesia yang mendapatkan kesempatan untuk bisa melihat praktek kehidupan di Negara orang tentunya berikut ini merupakan catatan reflektif saya dengan pendekatan lived experiences. Karena sifatnya subyektif, maka setiap warga Negara Indonesia yang berkesempatan tinggal agak lama di negeri ini mungkin akan memiliki cerita yang beragam dan berbeda-beda. Bagi saya singkatnya bahwa dengan tinggal di Negara ini, saya menjadi tahu dan terasa bahwa sepertinya kok ternyata ada Negara yang setidaknya bisa dicontoh mampu membuat warga negaranya bangga dan senang karena kesejahteraan dan jaminan sosial yang dibuatnya menjamin warga negaranya untuk hidup lebih standar dan layak. Tetangga saya yang istrinya dianggap center link disable (tidak bisa baca tulis), dan laki-lakinya cuma kerja junk mail (kirim surat ke kotak pos), bisa hidup enak, punya mobil dan juga bisa holiday.
Kalau mau jujur bahkan saya ingin mengatakan bahwa rasanya tinggal di Australia, sepertinya bagian dari upaya menyehatkan diri baik psikologis dan non-psikologis. Meki secara psikologis masih tertekan dengan tugas belajar, akan tetapi setidaknya kehidupan di Australia telah menjadikan saya jauh dari fenomena kemacetan yang saya hadapi tiap harinya di Jakarta. Keteraturan berkendara, serta kicuan burung yang masih alami, seperti masih menyatu dengan alam. Sementara di Jakarta untuk menikmati alam, maka saya pun harus rela bermacet ria ke puncak Bogor ketika weekend. Sungguh ada rasa “kecemburuan” ketika melihat public transportation yang nyaman dari pencurian, bersih dan ramah para sopirnya. Pernah ada teman yang ketinggalan dompet di Bus, dan setelah di telpon di pool-nya, ternyata masih aman dan kembali.
Rasa nyaman juga saya rasakan di pasarnya orang Adelaide, yang namanya Central Market. Meskipun statusnya pasar, tapi bersih dengan harga yang kompetitif dan variatif. Tidak becek, bau sampah seperti pasar-pasar yang saya saksikan ketika berada di tanah air. Makanya wajar, orang masuk ke pasar di sunahkan pakai kaki kiri (pertanda kurang baik, banyak transaksi tidak jujur). Sedangkan di kota ini, rasanya kok fenomena orang mencuri timbangan kok jarang terjadi, menjual secara jujur sebagaimana yang diajarkan oleh Rasuluallah. Buah-buahan, telor, daging semua dijual dengan due date (tanggal pemakian) yang jelas, sehingga tetap segar dan sehat dikonsumsi. Tidaklah mengherankan kalau salah seorang ulama’ kenamaan mengatakan raitul Islama bidunil muslimin yang artinya saya melihat praktek ajaran Islam di Negara yang bukan Islam. Tentu ajaran agama benar adanya, yang salah adalah para pelakunya yang belum mampu melakukan realisasi secara optimal.
Masalah keamanan saya malah punya cerita sendiri dengan mobil saya yang saya parkir di kampus dimana kuncinya masih nyantol (nempel) di pintu mobil. Alhamdulilah 3 jam saya tinggal itu kunci mobil masih berada di tempatnya. Betapa nyaman dan tenangnya hidup di Negara orang ini dalam batin saya. Sebagian teman yang dapat beasiswa juga mendapatkan berkah dengan para spouse dan studentnya yang bisa mendapatkan part time job disini yang cukup memadai. Kalau yang tinggal sementara (bukan warga negara) juga merasakan keberkahan, apalagi yang menjadi penduduknya. Sering saya saksikan betapa bantuan hukum pemerintah Australia terhadap warga negaranya yang terjerat kasus di luar negeri sangatlah serius dan optimal lobinya.
Tentu saja cerita diatas tidak selalu normal adanya. Ada teman yang mobilnya pernah dicuri, bahkan di bakar, di tinggal di jalanan. Terkadang juga anak mudanya ada yang rasis dengan model pakian Islam seperti Jilbab dan Burqa misalnya. Akan tetapi, bagi saya mereka juga dibentuk oleh media yang terkadang salah paham terhadap Islam. Padahal, tetangga saya yang sangat aktif bertanya tentang jilbab, setalah diberikan penjelasan dan berdialog sebagaimana hubungan pertetanggaan, akhirnya mereka ternyata menjadi tahu dan sangat apresiatif dengan model pakian Islam serta tuduhan negatif terhadap Islam yang selama ini mereka pegangi juga menjadi hilang. Masalah mencuri terkadang bukan motif ekonomi, yang sering terjadi adalah ada barang yang dipamerkan di dalam mobil, atau memang iseng mabok-mabokan anak muda. Masalah minuman memang menjadi masalah seperti lingkaran setan di negara ini.
Kembali masalah kenyamanan hidup di negara orang ini bisa dilhat dari cara memarkir kendaraan atau mobil yang mereka punyai. Mobil hanya di parkir di pinggiran jalan, dengan berbagai merek yang tidaklah murah (mobil berkelas). Begitupula hampir rumah yang berada di Adelaide ini tidak memakai pagar yang tinggi-tinggi, bahkan sebagian dipersilahkan terbuka aksesnya langsung ke pintu utama. Bandingkan dengan rumah-rumah yang ada di Pondok Indah misalnya, pagarnya berkawat duri, tinggi dan kekar seolah-olah ingin meyakinkan tingkat security-nya yang sudah mantap dengan jumlah satpam yang terkadang tidak cukup satu dua orang.
Ada apa gerangan dengan negaraku ini yang saya lihat dari kejauhan ini. Ingin rasanya kenyamanan di Australia bisa aku nikmati di negaraku suatu saat nanti. Sehat lingkungan alamnya, begitu pula nyaman para penduduknya, baldatun toyyibatun wa rabbun ghoffur. Sehingga orang dari negara lain berduyun-duyun berdatangan ke Indonesiku yang nyaman, mereka betah tinggal dan bahkan ingin menjadi bagian dari warga negara Indonesia, Amiin.

Subhanallah, saya sedih membaca cerita di atas. bukan karena tulisannya tapi karena isi cerita tersebut.
Sangat jauh sekali dengan jakarta.
Jika tuhan berkenan saya ingin pula belajar di luar negeri dan merasakan kehidupan lain selain di Jakarta…
Salam kenal ya mas..
Alhamdulilah dulu saya tahu 2006 begitu mas, bermimpi dan akhinya bermunajat kepada sang Ilahi rabbi.. Ya Rabb, hamba ini hidup sekali masa cuma lihatnya negara Indonesia saja. Berikan saya kesempatan untuk melihat negara lain ya Allah..Alhamdulilah terwujud. Ini bagian daari tahadus nikmah, semoga Anda bisa merasakan kenikmatan yang sama. Maaf jika tulisannya kurang runtut, krn saya buat sbg warming up sebelum menulis tesis dan tugas2 studi disini yang lebih serius.. Terima kasih atas kunjungannya.. Silahkan, baca seri khutbah saya di Flinders Uni.
Adib
Terima kasih sharingnya Mas…memang terasa kontras sekali perbedaanya. Pasti terasa Indah jika semua warga negara Indonesia bisa hidup damai, tenteram dan tercukupi semua kebutuhan hidupnya. Tetapi Indonesia memiliki masalah yang terlalu kompleks termasuk kebijakan yang dibuat juga terlalu ruwet sehingga hasilnya juga sering membuat blunder sendiri.
Salam damai dari tetangga Darlington…Indahnya kopi sore hari. Tak sruput dulu mas he he he
Salam,
Sama-sama mas Nanang. Semoga saja demikia, teman-teman yang sedang di luar negeri bisa menjadi agent perubahan perilaku yang tidak baik di Indonesia.Karena sesungguhnya jika alam kita dikelola dengan benar oleh para pemimpin bangsa kita Indonesia sesungguhnya sangat kaya dan potensial lebih bisa mensejahterakan dari negara yang maju sekalipun..Mari kita mulai dari diri sendiri amiin..