Meluruskan Tradisi yang Salah Kaprah?

H.M.Adib Abdushomad

Sewaktu pulang ke Indonesia takziyah, terlihat ada sesuatu yang berbeda yang ingin disampaikan oleh K.H. Zuhdi Khariri setelah selesai membaca yasin dan tahlilan, tidak seperti biasanya beliau mengupas dan memberikan makna yang mendalam apa itu hikmah, dasar dan tantangan membaca yasin dan tahlilan. Hampir puluhan tahun, setelah membaca surat yasin biasanya sang kyai hanya memberikan tausiyah seputar merenungi kehidupan di dunia, kehidupan setelah mati dan upaya-upaya mempersiapkannya. Ada apa gerangan dan seberapa urgent-nya, membahas hal-hal yang sudah menjadi tradisi di masyarakat ini? Rupa-rupanya saya menemukan jawabannya dalam kenyataan bahwa belakangan ini ada upaya-upaya mementahkan tradisi-tradisi  tersebut, sehingga ummat menjadi bingung, dan pada akhirnya meninggalkannya. Berikut ini  merupakan sedikit  penjelasannya.

Saat pulang ke Indonesia akhir 2011 yang lalu, saya mendapatkan laporan bahwa ada upaya-upaya yang massif dilakukan oleh kelompok tertentu yang secara demosntratif mementahkan tradisi keberagamaan yang sudah mapan, seperti membaca diba’an, yasinan, tahlilah, ziarah kubur serta peringatan Maulid Nabi. Kelompok yang aktif door to door ke Masjid dan Mushola ini dengan melobi para takmir dan pengurusnya, melakukan serangkaian seminar dengan berjudul “ Meluruskan tradisi yang salah kaprah”. Tentu saja dari judulnya, sekilas mereka memiliki alasan dan tujuan yang baik, akan tetapi ada hal-hal yang secara strategi dakwah serta content nilai-nilai yang diperjuangkan menjadi bermasalah karena “melawan arus serta” sebagian tidak dilakukan dengan baik, karena berdasarkan laporan seringkali memaksa pengurus masjid dan mushola untuk mendapatkan space dan iklan ideology yang diperjuangkannya, sehingga dalam taraf-taraf terntentu seringkali terjadi pergesekan antara pengurus masjid/mushola dengan kelompok yang mengaku mau meluruskan tradisi ini. Lalu siapa yang benar?

Bercermin dari sinilah Kyai Zuhdi yang merupakan pembimbing keluarga kami sewaktu menunaikan ibadah  haji menghimbau agar masyarakat tidak terprovokasi dan mensikapinya dengan penuh hikmah. Potensi ini seringkali terjadi, karena kedua-duanya merasa memiliki misi yang kuat. Yang pertama, meyakini bahwa yang diperjuangkannya adalah memerangi kebathilan dan menegakkan barang yang haq, pada satu sisi kelompok yang didatangi merasa tradisi dan keberagamaanya terancam, bahkan merasa dianggap tidak memiliki fondasi agama yang kuat karena telah melakukan hal-hal yang merusak dalam beragama.  Untuk itu mari kita lihat apa yang menjadi inti dari persoalan ini,  dengan kilas baik strategi dakwah para Walisongo sebelum membahas hujjah al-Qur’an dan hadith yang sering dipertentangkan antara satu kelompok dengan yang lain.

Dakwah Para Walisongo

Catatan sejarah menyatakan bahwa Islamisasi Nusantara, terutama di Pulau Jawa yang gencar dilakukan oleh para walisongo (Sembilan wali/dai) telah berhasil mengIslamkan Jawa karena cara dakwahnya dengan mengadopsi lalu mengIslamkan budaya-budaya local. Strategi dakwah para wali ini telah dicermati dan teliti oleh Sheino Katshohiko  bahwa diterimanya interior local dan telah diislamkannya merupakan salah satu kunci keberhasilan dakwah Walisongo. Walisongo mengenalkan Islam pada masyarakat Jawa sebagai agama yang tetap mengakui tradisi-tradisi masyarakat yang telah berkembang lama yang berbau Hindu, animism dan dinamisme, seperti tradisi peringatan tiga, dan tujuh hari setelah kematioan, ziarah kubur, musik gamelan dan benda pusaka lainnya.

Al hasil, maka Islam bisa masuk dan tetap mengabadikan tradisi yang ada, akan tetapi kontennya telah di Islamkan dengan diisi baca-bacaan ayat-ayat suci al-Qur’an. Sehingga ketika orang tujuh hari atau seratus hari memperingati setelah kematian yang biasanya diisi dengan minum-minuman dan keplek (main remi atau kartu) diganti dengan membaca kalimah thoyyibah dan yasinan oleh para Walisongo. Musik gamelan pun sekarang ini seringkali kita lihat berisi shalawat nabi, sungguh alangkah indahnya penyatuan tradisi (culture)  dan agama ini. Inilah yang dimaksudkan dalam al-Qur’an Allah SWT berfirman “ Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik pula” (QS. An-Nahl, 125). Para Walisongo membaca al-Qur’an tidak saja sekedar retorika, akan tetapi mengamalkannya.

Persoalan dewasa ini muncul setelah ratusan tahun para Walisongo berhasil meng-Islamkan Nusantara dengan kembali menggugat dan mementahkan sumber-sumber rujukannya, bukan lagi (katanya) strategi dakwahnya. Benarkan demikian? Manhaj (strategi) dakwah Walisongo mengajarkan kita bahwa Islam bisa dihadirkan di tengah-tengah tradisi yang berkembang, asal tidak bertentangan esensi agama Islam, maka tidak menjadi masalah. Sehingga, Islam bukanlah dipandang sebagai ajaran yang secara diametral bertentangan dengan budaya local, merahmati seluruh alam dengan nilai-nilai universalnya.

Sekarang kita saksikan bahwa yang kelompok pertama dan apa yang mereka  perjuangkan sangat tidak cerdas membaca peta keislaman dewasa ini, kenyataan bahwa yang membaca tradisi tersebut adalah orang yang sudah masuk Islam, bukan lagi orang yang belum beragama. Dulu Waslisongo susah payah mengsilamkan mereka yang belum Islam. Sekarang yang terjadi adalah fenomena “mengIslamkan orang Islam”, jadi tidak ada gunanya (tahsilul khasil), bahkan dalam banyak hal menimbulkan madhorot karena terbukti di daerah telah terjadi adu fisik antara beberapa kelompok tersebut.  Kelompok yang ingin meluruskan tradisi (menegakkan barang yang haq dan bathil) mungkin lupa bahwa bahwa tradisi tersebut sudah secara jama’iy dilakukan oleh para Ulama’ yang tersebar dengan pesantren dan pengikutnya. Sehingga bukan berarti mereka tidak tahu dan tidak paham, akan tetapi ingin melestarikan tradisi yang baik (al mukhafadhotu alaa qadimi sholeh wal akhdu bil jadid al-ashlah), apalagi jelas-jelas yang dibaca adalah al-Qur’an. Saya yakin kalau tradisi ini menyimpang, para ulama’ , baik di pesantren dan di MUI akan turun tangan meluruskannya.

Mengamati hujjah serta sumber rujukan-rujukan yang menjadi dalilnya (surat Yasin)

Karena banyaknya tradisi yang dianggap palsu, keliru dan tidak bersumber kepada al-Qur’an dan al-Hadith oleh kelompok pertama tersebut, saya akan membatasinya pada satu kasus saja yakni, mengenai pembacan surat yasin. Surat Yasin, dalam riwayah Hadith (HR. Ahmad) disebutkan kurang lebih bahwa “Surat yassin adalah hatinya al qur’an (qalbul qur’an) tidak membacanya seseorang terhadap surat Yassin tersebut,..dimana Allah swt akan mengampuni segala dosa-dosanya (laa yaqro’uha rojulun…illaa ghufiro lahu). Hadith ini dianggap oleh sebagian kelompok yang lain adalah dhoif dan bahkan katanya maudhu’, lalu bagaimana status mengamalkannya? Berdosakah?

Singkatnya, untuk mengetahui status hadith, maka seseorang harus mengusai ilmu hadith (uluumul hadith), dengan spesifikasi ilmu takhrijul hadith, yakni ilmu yang berusaha melihat status hadith. Olah karena itu, saya mewanti-wanti (memperingatkan bahwa) agar kita tidak mudah memberikan status hadith hanya dengan copas (copy paste) dari berbagai sumber, akan tetapi harus konsisten dengan dasar ilmunya (takhrijul hadith). Sepengetahuan saya saat ada tugas mata kuliah takhrijul hadith ini, untuk menjustufikasi suatu hadith banyak variablenya, salah satu diantaranya adalah dilihat dari matan  serta perawi (orang yang meriwayatkan hadith).

Hadith yang menjadi rujukan surat Yassin, dianggap Dhoif atau yang berarti lemah itu dari sisi periwayatannya (orang yang meriwayatkan), bukan dari sisi konten hadith-nya. Oleh karena itu, saya beranggapan (dan tentu Ulama’ lain yang sepaham), bahwa membaca Yassin setelah orang meninggal tidak berdosa, karena yang dibaca al-Qur’an. Terkait dengan status  yang hadith dhoif (lemah) dalam ilmu takhrijul hadith, masih bisa dipakai asal untuk keutamaan dalam beribadah (lifadhoilul a’mal) bukan untuk istimbath hukum, yaitu dipakai sebagai dasar hukum untuk memutuskan perkara yang sifatnya krusial dalam beragama. Dalam Istimbath hukum, maka hadith-hadith yang dhoif  tidak bisa menjadi sandaran, harus hadith yang shoheh. Selagi masalah tradisi (ingat strategi para walisongo), insyallah yang saya pahami tidak bertentangan dengan esensi ajaran agama tidak ada masalah.  Tambahan lagi, Dhoif dari sisi perawi ini juga seringkali “debatable” diantara  para muhadissin (ahli hadith) yakni menyangkut status perawi, apakah ia bersifat adil, bisa dipercaya atau tidak dalam meriwayatkan hadith ini. Disinilah kita mesti hati-hati, karena ada hadith yang di-exluded (tidak diakui) oleh kelompok ajaran yang lain, akan tetapi diakui dan dipakai sebagai hujjah bagi yang lainnya, sebagaimana penelitian” hadith-hadith politik” yang dilakukan oleh Prof. Dr. Muhibbin Noor.

Oleh Karena itu, saya beranggapan gerakan meluruskan tradisi yang salah kaprah sebagaiman judul diatas, justru bukan ikut mengembangkan medan dakwah yang telah digarap sukses oleh  para walisongo, akan tetapi justru membuat masalah baru, dimana yang dihadapi (object) dakwahnya bukan lagi yang perlu di-Islamkan akan tetapi sama-sama orang Islam yang memiliki argument landasan dalam memegang tradisi dan keagamaan mereka. Kalau kebiasaan untuk mengoreksi pemahaman keIslaman orang lain ini terus menjadi perilaku Saudara-saudara kita yang lain,  saya khawatir, Islam akan set back ke belakang, karena terjebak mempermasalahkan hal-hal yang tidak krusial dalam beragama, meski dianggap masalah krusial ( antara barang haq dan bathil) oleh kelompok yang lain. Islam juga bisa dianggap sebagai ancaman oleh tradisi (budaya) tertentu, bahkan oleh sesama Muslimnya sendiri. Kalau sudah dianggap ancaman terhadap budaya, maka akan sulit Islam berkembang sebagaimana deskripsi dakwah singkat Walisongo diatas. Disinilah perlunya kearifan dalam mensikapi perbedaan.

Bagi saya mensikapi ini, kita mesti kembali dengan cara berdakwah sebagaimana termaktub dalam surat an-Nahl yakni mengajak secara penuh kebaikan, begitu pula jika terjadi perbedaan. Jika tidak ada titik temu, maka sebaiknya menyadari bahwa memang tidak perlu dipaksa untuk disatukan untuk masalah hal-hal yang seperti ini. Yang terbaik adalah “lana, a’maluna walakum a’maalukum” sikap menghormati tradisi ritual keagamaan. Saya yakin sampai kapanpun ketegangan (tension within Islamic society) ini akan terjadi antara kelompok (meluruskan tradisi yang salah kaprah), dan mereka yang memegang tradisi. Akan tatapi jika bisa menghormati urusan rumah tangga orang lain, saya kira ini merupakan opsi yang terbaik.

Biarkanlah  di Akherat nanti masing-masing kita akan bersaksi apa yang telah kita lakukan, karena masalah hati hanyalah Allah swt yang maha tahu. Bukankah sudah disindir dalam sebuah syarah hadith Innamal a’malu bin niyah dalam kitab ta’lim muta’allim yakni “kam min amalin yutashowaru bishuroti a’mali dunya wayshiru min a’malil akheroh bi khusni niyah, wa kam min amalin yutashowaru bishuraoti a’malil akheroh tsumma yashiru min a’malil dunya bisyu’in niyaah”.  Artinya kurang lebih demikian, “banyak sekali kegiatan atau amal-amal yang keliahatanya perkara dunia bisa menjadi amalan akherat karena niyat yang bagus. Begitu pula banyak sekali amalan (kegiatan) atau perbuatan yang kelihatannya berdimensi akherat akan tetapi sesungguhnya masalah duniawi karena niat yang jelek”.  Ada forum pengajian, tapi kalau isinya menebarkan kebencian bagi kelompok pengajian atau saudara Muslim yang lain, maka meskipun pengajian ia tidak berdampak ke akherat. Oleh karena itu, istafti qalbak, tanyalah hatimu, mau ngaji cari ilmu atau dalam rangka mencari massa atau kekuasaan (pengaruh) untuk hal-hal duniawi?

Akhir kalam,

Hemat saya setiap tradisi-tradisi memiliki identitas keagamaan tertentu yang dewasa ini saling “berebut tempat” untuk mendapatkan massa dan simpati.  Bukan lagi masalah memperjuangkan, atau mendakwahkan agama Islam kepada yang lain sebagaimana ditunjukkan oleh para Walisongo, yang kalau ditarik ke atas maka kita mesti melihat role model junjungan kita, rosul kita nabi Muhammad SAW . Untuk itu, jangan ragu dan bimbang untuk bertanya kepada guru, kyai para ulama’, yang disebut sebagai pewaris para nabi (al ulama’ warasatul ambiya’) jangan bertanya kepada “kyai google” atau siapa saja yang tidak memiliki kompetensi dalam ilmu agama. Dalam era informasi terpampang luas seperti sekarang ini, jika Anda tidak jeli menangkap informasi (terutama masalah agama) maka akan jatuh kepada pemahaman yang sempit dalam beragama dan mudah untuk menyalahkan keberagamaan yang lain. Demikian, waallahu a’lam bi shawab.

 

 

 

12 comments for “Meluruskan Tradisi yang Salah Kaprah?

  1. March 29, 2012 at 2:44 am

    Terima kasih banyak Mas Adib tulisannya. Sangat menyejukan dan mencerahkan. Saya setuju untuk menjadikan Islam bukan sebagai agama yang penuh dengan kesan ‘SANGAR’ atau menakutkan, tetapi sebagai penyelamat kehidupan (rahmatan lil’alamin).

    • Adib
      March 29, 2012 at 2:57 am

      Sama-sama mas nanang, semoga bermanfaat. al-faqir ila rahmati rabbihi

  2. Ratna Rintaningrum
    March 29, 2012 at 3:38 am

    Sangan bermanfaat. Kasihan pada rekan-rekan yang baru belajar agama, yang menyempatkan diri belajar agama ketika di Australia, dan yang belajar agama tanpa guru. lebih parahnya lagi hanya kopi paste tanpa analisis, dan tidak ditanyakan pada ahlinya, tetapi berani ber fatwa.
    Islam adalah agama yang sangat fleksible, bukan menakutkan. Kalau isinya hanya haram dan bid’ah, yach orang takut masuk Islam dan belajar agama Islam.

    Posisi saya, saya akan tetap meneruskan tradisi-tradisi yang baik, termasuk yasinan tiap malam jum’at bersama suami dan anak2 dan di pengajian he he, yang gak mau baca yasin ya sudah. Keluarga saya saja, bapak, ibu, mas, adik dan suami sampe hafal sama surat Yasin. Nach sekarang ini ya jadi tugas saya untuk mendidik anak-anak saya sebagai penerus tradisi Islam yang baik.

    Saya berdoa semoga study cepat selesai dan segera bergabung lagi dengan kelompok pengajian di perumahan kami. Sudah kangen dg suasana yasin tahlil diba’ di perumahan. Untung di Aussie ada wadahnya, jadi ya terobati.

    Akhirul kalam bismillahirrahmaanirrahiim, mari kita sama2 berdoa semoga kita semua adalah penghuni syurga. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

    • March 29, 2012 at 3:44 am

      Salam, Amiin. Terima kasih mbak Ratna atas koment-nya, Semoga bisa memberikan pencerahan dan jangan lupa memegang teguh apa-apa yang sudah diwariskan oleh para ulama’ dan kyai yang kita tahu insyallah rujukan al-Qur’an dan al hadithnya kuat. Silahkan di-share, ke publik jika ada manfaatnya.
      al-faqiir ila rahmati rabbihi
      Adib

    • Abu Afifah
      March 29, 2012 at 11:52 am

      Dalam kitab Bulughul maram (bab puasa, hadist 708) disebutkan: Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Janganlah mengkhususkan malam Jum’at untuk bangun beribadah dibanding malam-malam lainnya dan janganlah mengkhususkan hari Jum’at untuk berpuasa dibanding hari-hari yang lainnya, kecuali jika seseorang di antara kamu sudah terbiasa berpuasa.” (HR. Muslim)

      • March 29, 2012 at 1:22 pm

        Salam, terima kasih kutipan hadithnya ya.., saya sempat pelajari sewaktu tsanawiyyah di pondok. Setahu saya kita tidak diperbolehkan puasa di waktu hari Jum’at kecuali, sooma ba’dahu au qoblahu, yakni harus berpuasa setelah atau sesudahnya. Mempelajari hadith bulughul marom ini mengingatkan saya thd salah satu hadith yang kalau tanpa petunjuk guru bisa kesasar atau tersesat memaknainya.. dalam bab thoharoh kalau tidak salah, (maaf ilmu ingatan saja). Disebutkan dalam hadith al maa’u minal maa’ kalau diartikan leterlex (tekstual) adalah “Air adalah bagian dari air” lalu apa maksudnya? Ternyata yang dimaksudkan adalah yang menyebabkan mandi adalah karena keluarnya air sperma.. itulah pentingnya guru dan mempelajari alat (balaghoh, nahwu, dsb) dalam ilmu agama..Trims.

  3. sentot e parijatno
    March 29, 2012 at 12:27 pm

    Salam,
    Semoga Allah memberikan HidayahNYA kepada kita semua.

    Dalam memahami masalah pendekatan dakwah, saya merujuk kepada dakwah para Rasul.. setiap Rasul selalu dibekali dengan keilmuan atau budaya yang sangat dikagumi dan di hormati saat itu, sehingga semua rasul senantiasa diterima oleh komunitasnya.

    Nuh dengan teknologi perkapalannya
    Musa dengan Sihirnya
    Daud dengan Baju Perangnya
    Sulaiman dengan teleportasinya
    Isa dengan kesehatan
    demikian juga dengan Rasul-rasul dan nabi-nabi lainnya
    kita semua memaklumi saat Rasulullah Syaidina Muhammad SAW dilahirkan Budaya Syair dan Buku adalah kegiatan yg sangat dihormati.. singkat kata Syaidina Muhammad SAW dan Al-Qur’an nya

    Saya tidak ingin membicarakan Para Rasul dan Mukjizatnya, tapi yang ingin saya sampaikan adalah bagaimana caranya Tuhan memerintahkan para Rasulnya dengan bekal/pendekatan budaya (mukjizat)…

    Selama 40 Tahun, Syaidina Muhammad SAW menjadi orang yang sangat berbudaya di Mekkah di jaman jahiliyah… Kemudian membawa budaya (Al-Qur’an) dan akhirnya tunduklah Mekkah dalam waktu 23 tahun dengan budaya (Al Qur’an) yg diperintahkan oleh Allah SWT

    Sampai hari ini keluhuran/kehormatan seseorang, tergantung buku yang telah mejadi karyanya.. tetapi tidak ada satupun yang semisal Al Qur’an.

    Semoga tanggapan saya bermanfaat. Amin

    Allahumma Shaliala Syaidina Muhammad
    SE

    • Adib
      March 29, 2012 at 12:41 pm

      Walaika salam,

      Terima kasih atas syarah komentarnya pak sentot. Kebanyakan orang salah paham dan pahamnya salah ini yang peling membahayakan, disamping melakukan knowledge judgement tidak berdasarkan keahlian dan keilmuannya. Ketika ikut para wali dan kyai, dianggap tidak ikut Rosul, misalnya adalah logika yang mentah, karena agama Islam turun tentu saja melewati dimensi sejarah (ruang dan waktu). Yang membawa sampai kesini dan terjaga salah satunya adalah para auliya, wali , ulama’ dan kyai. Itulah mengapa mereka disebut sebagai al ulama’ warasatul ambiya”; ulama adalah pewaris para nabi. Terkait dengan mukjizat al-Qur’an jelas sekali al-Qur’an beberapa ayatnya juga mengakomodasikan budaya lokal Arab. Arruju’ ila kitab wa sunnah, sah-sah saja, tapi jangan lupa ada dimensi sejarah yang dilewati.Jangan karena kasus tertentu, lalu di generalisir..misalnya orang baca yasinan tapi masih tidak sholat, berarti gagal..dsb. Waallahu a’lam bi shawab..

  4. April 6, 2012 at 4:47 am

    Mas Atib, catatan tambahan dari saya. Sepakat hadis dhaif itu jangan dipakai utuk berhukum, dan jangan diakitkan dengan aqidah, serta jangan sebut dari Rasulullah. Jika isinya cocok dengan syariat (Qur’an dan Sunnah) bisa dipakai untuk kemaslahatan. wallahualam bisawab.

    • April 6, 2012 at 5:30 am

      Salam,

      Perkara bacaan yasin dan tahlil ini memang lagi hot topic di Adelaide, Om Tofiq. Setelah saya sampaikan pengajian yasinan di rumah duka salah satu PR, ada yg posting kalau hadith yg dipakai dasar yasinan adalah palsu.

      Umat menjadi bingung dan bimbang, aplg memang kenyataan tradisi ini eksis di bumi Nusantara. setelah saya telusuri hadith dasar mbaca Yasin ini variatif redaksinya. Ada salah satu yang sudah saya takhrij dan ternyata shoheh, jalur sanadnya nyambung ke rasuluallah. Tapi, ada pula yg dhoif (lemah). Dhoif ini ibarat, tergantung perawi yg menyampaikan, orang percaya atau tidak. Jalur kompromi thd teks hadit yg dhoif ini dengan pendekatan lifadhoilul a’mal (yakni utk keutamaan ibadah) tidak apa-apa, sebagian ulama’ spt itu. Tapi, thd takhrij hadith yang nyambung sy rasa kok tidak ada yg perlu dipersoalakan. saya malah salut terhadap teman2 Muhammadiyah disini yg justeru back up terhdap argumen saya dan tradisi NU disini, mereka sangat tidak mempermasalahkannya. Saya tidak geneologis keIslaman yg suka membid’ahkan dan terkadang mengkafirkan sesama Muslim ini, asal-usulnya dari mana? Demikian, Om Tofiq, berita sekilas dari Adelaide, makanya saya berusaha membuka Kajian Tafsir Yasin di Australia setiap minggu semampu ilmu saya spy bisa lebih mendalmi surat Yasin..

  5. April 6, 2012 at 1:34 pm

    Di Tanah Minang Sumatera Barat yang banyak kaum Muhamafiyahnya, sangat menghormati tradisi atau adat sehingga lahir ungkapan yang sangat terlenal yaitu: “Adat bersendi syara, Syara bersendi Kitabullah”. Istilah adat dalam pustaka hukum Islam disebut “Urf”. Adat atau tradisi atau kebiasaan yang tidak bersendi syara itulah yang perlu disikapi dengan kehati-hatian, karena boleh jadi adat itu asal muasalnya terkait dengan “aqidah” agama lain. Walluhu alam bisawab.

    • April 6, 2012 at 6:21 pm

      Salam,

      Begitulah Islam tidak datang dalam ruang hampa, ada budaya yang sudah exist. Bahkan dlm banyak hal prektek syari’ah nabi sebelumnya juga masih diakomodir dg konsep syar’u man qablana. Nabi sendiri berhasil mengIslamkan Jazirah Arab dengan pendakatan budaya, mengakomodir tradisi yang ada dengan tetap memegang prinsip akidah dan tauhid. Sejarah masuknya hukum Islam di Indonesia sangat kental diwarnai dengan pertarungan hukum Adat dan hukum Islam in. Sehingga sempat muncul teori hukum yg dipakai oleh kolonial, termasuk terori “resepsi” hasil olahan Snouck Hurgronje yang mengatakan hukum Islam baru dipakai setelah diterima oleh hukum adat. Teori yang menyesatkan ini telah di babat habis oleh pakar hukum di Indonesia, dengan teori receiptie exit, dsb. Karena telah berusaha membenturkan hukum Islam dan Adat setempat agar supaya bertarung. To cut the long story short, bagi saya om, kehati-hatian (ikhtiyath) itu penting sebagaimana saaran sampeyan. Karena saya melihat orang lebih banyak memintingkan Adat, tradisi ketimbang prinsip syari’ah yang mestinya gampang dan tidak susah. Contohnya, orang mau nikah, adat dan trasidisnya harus mengeluarkan puluhan juta. Padalah menikah secara syari’ah Islam sangatlah mudah dan tidak mahal. Kuatnya adat dan tradisi menjadikan orang lupa esensi menikah, tapi lebih memikirkan aksesoris persiapan pernikahan yang mahal-mahal tersebut. Wa allhu a’lam bi shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* 6+1=?