Dialog Pendidikan Islam: Pesantren, Modernisasi dan Tradisi (Lived Experience)

H.M. Adib Abdushomad, M.Ed[1]

Pengantar

Kalau kita merujuk kepada sumber hukum Islam, al_qur’an  dan al-hadith sudah sangatlah jelas bagaimana posisi kedua sumber tersebut dalam  mendorong umat Islam untuk memperhatikan masalah ilmu dan pendidikan. Tidaklah mengherankan semasa Rasuluallah dan sahabat tawaran perang bisa “dibebaskan atau ditebus”” asalkan mereka mau mengajarkan ilmu kepada kaum Islam. Demikian pula wahyu al-Qurán dengan surat pertamanya yakni surat Iqra’merupakan surat pembebasan dan pencerdasan umat. Surat ini merupakan wujud transfer of knowledge, culture and civilisation dari peradaban manusia dari masa kegelapan moral- intelektual dan membawanya ke arah peradaban yang tinggi dibawah petunjuk ilahi (liyukhrija min dzulumati ilan nur).Bahkan menurut Sarjana Barat ahli Pendidikan Islam Bayard Dodge[2], mengatakan bahwa “ditengah-tengah budaya primitive seperti itu, ajakan kenabian Muhammad diibaratkan seperti menanamkan benih yang bertujuan untuk mengembangkan warisan atau khasanah kecendikiawanan Islam”.Lalu yang menjadi pertanyaan adalah bagaimanakah posisi pendidikan Islam sekarang ini.Masihkah lembaga-lembaga pendidikan Islam sekarang ini menjadi dan membawa misi sebagai agent pencerahan umat atau justeru sebaliknya, mengembalikan posisi umat ke arah kehidupan yang lebih primitive lagi.

Format pendidikan Islam telah berlangsung kurang lebih 14 abad yang lalu sejak Nabi Muhammad diutus sebagai Nabi dan Rasul.Tentu saja, pada masa ini, awalnya pendidikan berlangsung secara sederhana, dimana  masjid sebagai pusat proses pembelajaran, sedangkan  al-Qur’an dan al-Hadith sebagai kurikulum utamanya.  Tidaklah mengherankan jika terjadi hijrah ke suatu tempat, pertama kali yang dibangun oleh Rasul di satu daerah adalah masjid.Masjid menjadi pusat peradaban, teaching and learning pada saat itu.

Dalam fase ini Rasuluallah sendirilah berperan sebagai guru dalam proses pembelajaran tersebut. Setelah Rasuluallah wafat, Islam terus berkembang ke luar jazirah Arab. Dengan cakupan Islam yang di-extended di luar jazirah Arab inilah, maka pendidikan Islam pun mengalami persentuah atau interaksi dengan budaya dan peradaban yang lain. Kurikulum pendidikan, misalnya yang sebelumnya terbatas pada al-Qur’an dan al-Hadith berkembang dengan dimasukannya ilmu-ilmu baru yang berasal dari luar jazirah Arab.Setelah mengalami kontak dengan peradaban dan, baik dalam bentuk peperangan atau bentuk hubungan damai, pendidikan Islam mengalami kemajuan dan perkembangan[3].

Sejarah juga menunjukkan bahwa perkembangan kegiatan kependidikan Islam pada masa klasik telah membawa Islam sebagai jembatan pengembangan keilmuan klasik ke keilmuan modern.Dari sinilah muncul tokoh-tokoh yang secara reputasi akademik menguasai Islam dan ilmu modern, sehingga pada saat itu Islam mengalami zaman keemasan dan kemajuannya.

Tulisan singkat saya ini akan berupaya meneropong sejauhmakah kiprah lembaga-lembaga  pendidikan Islam secara historis hingga saat ini, khususnya lembaga Pesantren[4]. Terkait dengan topik ini saya akan membatasi pembahasan dalam diskusi ini dengan melakukan analisa lived experiencesaya atau sering juga disebut sebagai auto-ethnography, dimana saya akan banyak memakai resources pengalaman pribadi saya sebagai orang yang lahir dan dibesarkan dari Pesantren ini.

Public Image Pesantren

Ketika disebut pesantren, maka asosiasinya bisa bermacam-macam. Salah satu diantara istilah khas pesantren yang pernah saya dengar adalah kelompok “sarungan” (karena memang pakai sarung dan peci), kitab kuning, kyai, barokah, ta’zir, nadzhoman, dibaán, yasinan, tahlilan, alfiyahan, jamiïyahan, shalat malam, system sorogan, dan masih banyak lagi. Diantara isitilah yang saya anggap masih netral tersebut, belakangan ini masih juga menempel kesan lain atau sengaja “dikesankan” dengan atribut yang kurang baik, seperti berfikiran kolot, tidak bersih (kotor), KKN, terorisme, bahkan terlalu liberal. Mari akan kita lihat bagaimana alur singkat sejarah pesantren di Indonesia.

Sejarah lahirnya pesantren berbeda dengan lahirnya gerakan Muhammadiyah yang mendirikan lembaga pendidikan modern dengan meniru apa yang dilakukan pemerintahan penjajah saat itu. Bagi Muhammadiyah, kemajuan akan bisa diraih jika kita mampu mengcopy  pola pendidikan yang telah dikembangankan pemerintah kolonial secara sistematis. Berbeda dengan Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama’ memiliki sikap yang berbeda yakni dengan mengembangkan jalur-jalur pesantren yang memang tidak membutuhkan pengakuan formal dan kurikulum dari pemerintah kolonial saat itu.Pesantren lebih condong untuk membuat networking diantara  mereka-mereka yang pernah belajar ke Mekah. Meskipun demikian,  sejarah menunjukkan bahwa pada fase peerjalanan Haji ke Mekkah yang ke dua kalinya KH. Ahmad dahlan lama tinggal disana dan berguru kepada ulama’ yang tidak jauh beda dengan KH. Hasyim Asy’ari. Beliau memperdalam Fiqh kepada Kiai Machfudz At Termasy, ilmu Falaq kepada Kyai Asy’ari Bacean serta kontak dan berdialog dengan ulama’ Nusantara yang menetap di mekkah seperti, Muhmmad Khatib (Minangkabau), KH Nawawi al bantani, Kiai Mas Kumambang dari Gresik serta KH. Mas Abdullah dari Surabaya. Tidaklah mengherankan kalau di kota  Mekah sendiri banyak dikenal istilah Ulama’al Jawi (yang berarti berasal sebagian besar dari tanah Jawa).

Hemat saya mengapa ulama’ tradisional NU ini ingin tampil berbeda, karena saat itu posisi Barat adalah sedang menjajah Islam, sehingga keluarlah  dalil “ man tasabbaha bi qaumin fahuwa minhum” barang siapa tingkah lakunya menyerupai seseorang, maka ia termasuk didalamnya. Dalil ini tentu dipakai sesuai dengan spirit dan konteks saat itu, yakni ini menunjukkan siapa kawan dan lawan, pembedaan ini terlihat dari hal-hal yang sifatnya daily custom, cara berpakian, sampai dengan mengorbankan makna jihad melawan penjajah, sebagaimana terekam dalam kata-kata “hubbul wathan minal iman”. Agar cara berpakiannnya berbeda dengan penjajah yang memakai celana panjang, maka para ulama’ dan kyai saat itu lebih suka pakai sarung dan peci,  bahkan sampai ada istilah belajar bahasa Inggris adalah bahasa kafir, lughah al kafirun. Kesan ini masih saya temukan ketika Bapak mertua saya almr.KH.Kholil Suhaimi berpesan agar hati-hati di Negara Australia, dimana aksaruhum minal kaafirin.

Dalam penjajahan ini pesantren dan komunitas yang berada di dalamnya berada di garda depan dalam memerangi penjajahan. Saya sering dapat cerita dari Ibu saya, bagaimana kakek saya KH.Nachrowi  (Pengasuh Ponpes Ribatul Muta’allimin) sering keluar masuk penjara karena dianggap pesantrennyamengajarkan kebencian terhadap penjajah.

Pasca Kemerdekaan dan bagaimana sekarang?

Meneropong nilai-nilai  Pesantren

Nasib pesantren memang kurang menguntungkan, meskipun tercatat aktif  dalam ikut merebut kemerdekaan bangsa, akan tetapi tidak demikian dengan perhatian pemerintah, terutama masa orde baru. Pesantren sejak awal cenderung lebih mengandalkan dukungan dana dari masyarakat, sehingga  tidak begitu  “risau” dengan sikap pemerintah saat itu. Menurut cerita yang dapatkan dari sejarah pesantren di simbah saya dan juga fenomena serupa saya temui di ponpes mertua di  Brebes. Awal mula berdirinya pesantren adalah bangunan satu bilik kamar yang dibangun dari para murid simbah dan juga Bapak mertua yang setelah diajari ngaji tasir, dan ilmu Islam lainnya, lalu dalam khatamanya-nya memberikan hadiah dengan membangunkan tempat untuk santri atau sering disebut bilik pesantren di tanahnya pak Kyai tersebut. Karena semakin banyak muridnya, dan dengan figur sosok kyai yang memasyarakat,  maka masyarakat sekitar pun mulai turun tangan membantu kelangsungan berdirinya pesantren, dibantu para aghniya’. Terlihat betapa ikatan dengan masyarakat,  santri dan alumni sangatlah kuat.  Dari sini bisa dilihat bahwa pesantren dibangun dengan kekuatan masyarakat yang memang memerlukan keberadaanya tokoh agama yang memberikan pengayoman, pencerahan atau sering disebut cultural broker untuk saat itu. Kata kunci dari sini adalah pesantren dibangun dengan kemandirian-independensi, bukan kucuran danadari proposal pemerintah, partai politik atau sumbangan luar negeri. Ia sangatlah otonom, sehingga meminta ke pemerintah saat itu (setidaknya dengan pengalaman dua pondok saya di Pekalongan dan Brebes) menjadi sangat tabu. Tidaklah mengherankan sebagian pesantren dibangun tanahnya milik kyai dan dihidupi dari pertanian dan bantuan masyarakat.

Hal ini jelas sangat berbeda dengan fenomena berdirinya pesantren belakangan ini dimana gedung dan sarana-prasarananya sudah siap, ustadz atau kyainya sudah dikontrak,  akan tetapi santrinya belum ada. Kalau dulu ibaratnya, mendirikan pesantren tidak saja sekedar bangunan, akan tetapi juga perjuangan, keikhlasan mengamalkan ilmu di masyarakat sekitar dengan buah hasilnya adalah banyaknya orang tua yang ingin menitipkan anaknya untuk diajari ilmu-ilmu agama. Ketika, mulai banyak yang mau menitipakan anaknyauntuk  mondok, barulah ia akan izin ke gurunya (tempat) dia mondok untuk mendapatkan restu, dsb.

Saya mendengarkan cerita langsung  dari kakak Ipar (pengasuh ponpes) dimana K.H. Maimin Zubair datang dan nginep (bermalam) ke rumahnya untuk mendo’akan rumahnya yang akan dijadikan Pesantren (istilahnya dibarokahi). Disini kita melihat adanya tali ikatan guru dan murid yang sangat kuat, sampai pada hal-hal untuk mendukung pengembangan pesantren bagi para alumninya.Pada point ini kita bisa simpulkan restu dan ikatan murid dan guru menjadi kata kunci dalam membangun pesantren.Sayangnya hubungan patron-client, ini seringkali dimanfaatkan oleh para politisi untuk mendulang suara menjelang kampanye. Sehingga terlihat, ketika kyai besar (tempatnya) mondok mengatakan memilih figure tertentu maka seringkali akan diikuti pula oleh murid-muridnya.

Karena begitu dekatnya Pesantren dengan masyarakat, maka dalam banyak hal strategi dakwah dan pengajarannya pun banyak mengadopsi  tentu saja nabi Muhammad dan dalam konteks Indonesia para Walisongo, dengan mengakomodasi budaya lokal selama tidak bertentangan dengan prinsip syariáh.  Oleh karena itu pondok pesantren dikenal menjadi sumber rujukan bagi masyarakatnya, ketika berhadapan dengan masalah-masalah keagamaan dan lain sebagainya

Inside Pesantren and Santri  Minds

Barangkali yang sering menjadi pertanyaan adalah bagaimana pengajaran yang ada di dalam peantren, sehingga membentuk karakter yang disebut santri itu.Lalau kenapa kok ada yang menyebutnya kolot, anti kemajuan, tidak bersih, teroris, dan lain sebagainya. Singkatnya adalah kalau kita lihat kurikulum pesantren—misalnya diniyyah, mulai dari Ibtidaiyyah, tsanwiyyah,  Aliyah, bahkan ada yang memiliki program Máhad’Aly (pasca Aliyah),   maka diajarkan pembelajaran yang sifatnya berjenjang. Mulai dari kitab fiqh yang dasar hingga keatasnya, begitu pula ilmu bahasa serta ilmu-ilmu yang lainnya. Dari sini ada dua model santri, yang murni hanya mengaji (salaf) dan dua-duanya ia mengaji (salaf) dan juga ikut sekolah umum, bagi pesantren yang membuka  sekolah pagi. Namun demikian dikotomi ini sudah kurang tepat karena pemerintah melalui Direktorat pendidikan Pesantren melakukan muaddalah, bagi santri salaf ini agar mata pelajaran yang diambil sewaktu belajar dinniyah  bisa disamakan dengan sekolah umum.

Kedua model santri, baik yang hanya fokus ke arah keagamaan dan kombinasi, kesemuannya diwajibkan mondok di Pesantren, sehingga mereka terpantau oleh pengasuh.Disinilah peran pengasuh Kyai dan Ustazd sangatlah penting untuk pembentukkan karakter para santrinya. Karena sosok kyai kehidupannya akan dilihat siang dan malam oleh Santri. Hemat saya hampir 24 jam waktu kyai habis di Pesantren (dengan catatan yang tidak terlibat politik).Dimulai dari shalat subuh sampai malam hari (ada jadwal shalat malam), saya sendiri menjadi saksi bagaimana siklus kyai.Kamar saya waktu itu ruangdepannya sering dibuat ngaji tafsir jalalain oleh Abah mertua sehabis subuh persis. Jadi kalau bangun subuh terlambat akan sangat malu sekali dan tidak bisa keluar karena sudah banyak santri yang berjejal di depan pintu. Pengajian ini biasanya selesai sampai jam 7 pagian. Bagi yang tidak sekolah pagi, maka ada lagi ngaji kitab sampai dhuhur, dan sehabis dhuhur ada ngaji lagi dengan jenis kitab yang berbeda-beda. Habis Ashar mengisi pengajian di masjid yang dihadiri masyarakat sekitar, maghrib dan Isya’di Masjid.  Jam delapan malam terkadang Abah mertua juga masih memberikan pelajaran kitab, entah kitab apa lagi, dan malamnya bangun untuk tahajjudan. Point saya adalah spirit untuk mentransfer ilmu kepada santrinya sangatlah  tinggi, bahkan melebihi jadwal belajar mahasiswa Ph.D. Sosok yang seperti inilah yang akan menjadikan santri segan dan dijadikan role model saat kelak selesai nyantri dari pondok pesantrennya.

 Kontribusi Para Santri, kini dan yang akan datang

(Integrasi Islam dan Science)

Dengan pendalaman ilmu keagamaan yang kuat, dan hidup dalam siklus kehidupan pesantren dengan role model  kyai  (pengasuh) pondok pesantren seperti diatas,  maka santri memiliki bekal yang kuat untuk  menyapa dunia di luar. Terlebih kesempatan terbuka lebar bagi para santri dengan program muaddalahnya, dan bagi yang ingin melanjutkan ke Perguruan Tinggi dalam konteks Indonesia pemerintah telah menyiapkan Universitas Islam Negeri (UIN) yang merupakan ikhtiyar untuk mengintegrasikan Islam dan Science.Di dalam kampus UIN di bangun Pesantren atau Ma’had Aly yang akan menggembleng pemahaman keagamaan para mahasiswanya. Saya meyakini bahwa integrasi akan sangat tepat dan mampu dilakukan oleh para santri dengan bekal keagamaan khas pesantren yang telah dikenalkan berbagai pemikiran keagamaan sebelumnya[5]. Dibandingkan lulusan umum (SMU) dimana mempelajari agama hanya dua jam dalam seminggu. Meskipun sudah ada direktorat Pendidikan Agama pada Sekolah Umum upaya untuk memperkenalkan pemikiran Islam yang secara gradual tidak bisa diserap dengam mudah secara singkat oleh anak-anak umum.

Dengan adanya kontestasi keIslaman yang bervariasi dewasa ini, pesantren dan alumninya memiliki peluang yang distinctive dibandingkan yang lain, setidaknya tidak kaget dalam mensikapi tawaran-tawaran keagamaan yang beragam dewasa ini. Sudah menjadi rahasia umum bahwa fakutas MIPA, Kedokteran dan Keguruan di PTU, pasca reformasi sangat kental nuansagerakan  Islam yang cenderung hitam putih dalam melihat perbedaan keagamaan yang lain. Gerakan agama ini pun belakangan  memiliki “politik identitas keagamaan ” yang agak berbeda dengan dengan pesantren (termasuk yang maksudkan adalah pesantren Ma’had Aly UIN). Tidak sebagaimana alumni pesantren, mereka akan lebih bisa memahami tafsir perbedaan keagamaan, tidak suka menyalahkan yang lain dengan prinsip tawasuth, ta’addul dan tawazzun.

Sosok yang seperti sangatlah ideal untuk mensikapi variasi perbedaan pendapat dibandingkan mereka yang diajarkan Islam secara mendadak.Dewasa ini kita dihadapkan suatu kenyataan bahwa antar sesama Muslim mudah sekali mengkafirkan, mengharamkan dan membid’ahkan. Dan Pesantren dan alumni-nya seringkali tersandung batu masalah ini karena, diyakini oleh yang lain suka mengajarkan kemusrikan (karena suka ziarah), mengada-ada yang tidak pernah dilakukan Rasuluallah (bid’ah, tawassul melalui tahlilan) serta praktek keagamaan lainnya.

Hal-hal furu’iyyah justeru semakin dipertajam dengan politik identitas keagamaan.Untuk itu , lembaga pendidikan Islam, jika tidak memainkan fungsi iqra’, pencerahannya, apalagi justeru  menjadi sumber untuk menciptakan politik identitas keagamaan, maka sangat mungkin kita akan kembali kepada zaman kegelapan dimana, kita tidak tahu lagi mana yang benar dan yang salah. Di Adelaide terjadi peristiwa yang di you tube disebut  “Marion Hooligan Mosque ” yakni pertarungan di dalam masjid karena perbedaan yang sifatnya furu’iyyah menyangkut pemahaman keagamaan. Di tempat pengajian atau khutbah jum’at di Australia, masih sering saya dengar pembid’ahan secara terbuka yang menyerang saudara  Muslim lain.

Hemat saya apa yang terjadi kategangan antar sesama Muslim dewasa ini, karena tidak mampu mencoba melihat aspek kebenaran dalam kacamata orang lain lalu menyelesaikan sesuatu dengan merasa paling benar. Kata West Churchman kita mesti tahu musuh dalam diri kita, enemies within, salah satunya adalah jika kita sudah merasa menemukan jawaban yang paling mutlak. Tentu ada wilayah yang kita harus imani (absolute), tapi ada hal-hal yang sifatnya ijitihadiyyah memungkinkan kita untuk mengapresiasi caraberfikir orang lain. Jika kita sulit berdialog untuk menemukan kebenaran, maka ini menjadi pertanda bahwa kita akansetback ke era primitif sebelum turunya al-Quran dan Nabi Muhammad sebagai utusan Allah swt.

Pesantren telah banyak membuka diri dan berbenah untuk menyesuaikan diri dengan konteks zamannya. Yang dulunya kotor sekarang sadar akan kebersihan, yang dulunya tidak suka bahasa Inggris, sekarang banyak yang justeru sekolah di luar negeri.  Nilai-nilai pesantren setahu saya juga banyak diadopsi, mulai dari kemandirian, hubungan guru-murid, serta model pembelajaran 24 jam dengan di asramakan. Yang mungkin sulit ditiru adalah role model dari kyai yang kehidupannya open sources bagi para santrinya karena tinggal bersama serta tidak berorientasi kepada materi, dengan memberikan beberapa “santri ndalem” beasiswa dan spesifikasi santri yang tidak mampu. Kenyataan ini semakin membuktikan bahwa pesantren salaf NU sebagian masih sangat dekat dengan masyarakat kecil dan sebagian lagi bergerak ke arah tengah menyesuaikan tuntutan zaman dengan membuka sekolah umum dan perguruan tinggi di dalam pesantren.

Membangun Pesantren di Australia?

Dengan melihat landscape, historitas Pesantren serta nilai-nilai yang ada, yang menjadi pertanyaan adalah mungkinkah membangun pesantren di Australia sebagaimana khas di Indonesia?Saya kira membangun nilai-nilai pesantren bisa dilakukan di Australia, tidak harus dengan secara obsesif membangun gedungnya (bangunan fisik).Yang paling penting adalah ketika orang sudah merindukan suasana khas pembelajaran Islam Indonesia, maka “titik temu” ini bisa dimulai. Hemat saya sudah banyak orang Indonesia yang tinggal di Australia, akan tetapi belum satupun yang mampu mewujudkan pendidikan Islam khas Indonesia (entah apa namanya) yang digagas secara bersama-sama, yang menggabungkan nilai-nilai ke Islaman dan modernitas. Sebagian lembaga pendidikan di bangun dari bantuan Arab Saudi seperti  (Malk Fahd College), Lebanon (Al Noori, Green Valey Islamic Schhol) ataupun Australian Islamic  College of Sydney yang dibawahi organisasi masyarakat muslim Pakistan untuk mengambil beberapa contoh. Nilai-nilai itu bias diwadahi dalam mekanisme “Pesantren kilat” selama musim summer di Australia, dengan mendatangkan ahli pesantren dari Indonesia, syukur-syukur expertise di dalam Australia sudah ada.

Sebagai dampak langkanya sistem pendidikan Islam khas Indonesia di Australia, maka lama-kelamaan anak dibentuk oleh budaya atau karakter pendidikan yang melahirkannya, sehingga “tercerabut identitas”-nya sebagai anak yang lahir dari rahim orang Indonesia. Dan yang paling penting adalah madzhab Islam yang diajarkan sangatlah berbeda dengan nilai-nilai dan budaya mainstream Islam khas Indonesia yang moderat dan santun. Semoga diskusi ini akan mengawali kita semua sebagai bangsa Indonesia atau memiliki riwayat keturunan Indonesia yang tinggal di Australia untuk bersama-sama mulai memikirkan ke arah upaya-upaya tersebut.

 

 



[1]Sedang nyantri di School of Social and Policy Studies, Flinders Public Policy and Management, South Australia

[2] Bayard Dodge “Muslim Education in Medieval Times (Washington, DC), p.1. Kurang lebih text lengkapanya adalah seperti berikut ini.In the mids of this primitive culture, Muhammad’s call to prophethood was like planting of a seed, destined to blossom as the intellectual heritage of Islam.

[3] Thoyib Ruswan dan Darmuin (eds). Pemikiran Pendidikan Islam; Kajian Tokoh Klasik dan Kontemporer, Pustaka Pelajar dan fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang , 1999.

[4] Pembatasan bahasan ini dikarenakan bahwa pemikiran tokoh Islam tentang pendidikan Islam ternyata tidaklah monolitik. Setiap pemikir memiliki kecenderungan pemikiran yang khas sesuai dengan sosio-kultural pemikir yang bersangkutan. Artinya dimensi ruang dan waktu serta konteks yang dihadapi akan mempengaruhi bagaimana mendesign model pendidikan Islam yang ideal. Ada yang menekankan pengembangan SDM, pembentukan kepribadian Muslim serta ada pula yang secara pragmatis menekankan pendidikn untuk menjawab tuntutan modernitas.

[5] Lebih lanjut lihat di http://adib-gja.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* 5+5=?